GEREBEK GUDANG NARKOBA DI KOSAMBI, DUA SINDIKAT DITEMBAK MATI BNN – Poskota.co

GEREBEK GUDANG NARKOBA DI KOSAMBI, DUA SINDIKAT DITEMBAK MATI BNN

POSKOTA.CO – Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek sebuah gudang narkoba yang berlokasi di Pos II Pergudangan Sentra Kosambi, Desa Kosambi Timur, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Selasa (15/11).

Barang bukti hasil penggerebekan di gudang narkoba Kosambi, Kabupaten Tangerang, 100 kg sabu dan ribuan butir pil happy five (H5) yang disita di lokasi.
Barang bukti hasil penggerebekan di gudang narkoba Kosambi, Kabupaten Tangerang, 100 kg sabu dan ribuan butir pil happy five (H5) yang disita di lokasi.

Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Brigjen Eko Daniyanto mengungkapkan, dalam penggerebekan, petugas BNN menembak mati dua orang kurir karena berusaha melarikan diri saat hendak disergap. Sindikat tersebut sudah diintai hampir dua minggu oleh tim BNN dan Bea Cukai Jakarta Pusat.

“Sekitar pukul 15.00 WIB, 42 personel BNN Jakarta Pusat yang sudah disebar di sekitar lokasi, memberhentikan mobil Avanza bernopol B 1754 PRL,” jelas Eko, Selasa (15/11).

Mobil tersebut keluar dari gudang Blok H5J Pergudangan Sentra Kosambi. Setibanya di Pos II sekuriti pergudangan, petugas BNN menyergap mobil tersebut, dan memerintahkan untuk berhenti serta meminta dua orang penumpang turun.

“Akan tetapi salah seorang pelaku yang duduk di bangku belakang menembak petugas, sehingga petugas melakukan penembakan ke dalam mobil,” ungkap Eko.

Dua orang pelaku tewas di lokasi yakni, ZA (31) yang diduga oknum TNI dan seorang warga sipil. Sementara satu orang pelaku warga negara Taiwan, Yeh Jen-Che Eh, ditangkap dalam keadaan hidup.

Petugas kemudian menggeledah mobil Avanza berwarna hitam tersebut, dan menemukan tas koper berisi sabu. Total ada 100 kg sabu dan ribuan butir pil happy five (H5) yang disita di lokasi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_810" align="alignleft" width="300"] Effendi Gazali[/caption] POSKOTA.CO - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali melayangkan protes ke Mahkamah Konstitusi meminta penjelasan atas ketidakkonsistenan dan memiliki sikap berbeda dalam mengadili suatu perkara. Dalam surat itu, Effendi meminta penjelasan tentang permohonannya terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak yang membutuhkan waktu satu tahun lebih. Dia mengungkapkan bahwa pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu didaftarkan Effendi pada 10 Januari 2013 dan baru diputus 23 Januari 2014. Sementara, saat menguji Undang-Undang nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Mahkamah Konstitusi, MK hanya membutuhkan waktu 37 hari. "Putusan Mahkamah Konstitusi No 1PUU-XII/2014 dan 2/PUU-XII/2014 dibacakan setelah 37 dan 50 hari sejak pendaftaran perkara, sedangkan Putusan PUU kami nomor 14/PUU-XI/2013 dibacakan setelah 1 tahun 13 hari (378 hari) sejak pendaftaran perkara," ungkap Effendi, dalam suratnya. Effendi juga memprotes dasar pertimbangan yang digunakan, yakni saat mengadili UU MK, mahkamah mempertimbangkan perlu segera memutus perkara karena terkait dengan agenda ketatanegaraan Tahun 2014, yaitu pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Namun, lanjutnya, dalam mengadili UU Pilpres yang diajukan Effendi, MK tak menggunakan pertimbangan serupa. Oleh karena itu, Effendi dalam suratnya mempertanyakan, apakah konstitusionalitas dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kalah penting dibandingkan dengan potensi sengketa hasil pemilu yang akan ditangani oleh MK. Effendi mengharapkan respon secepatnya dari MK, jka sampai 14 hari tidak mendapatkan respon, maka dia mengancam akan melaporkan masalah ini ke Dewan Etik MK. djoko-antara