BAWA BARANG HARAM, KULI BANGUNAN DICOKOK POLISI – Poskota.co
Saturday, September 23

BAWA BARANG HARAM, KULI BANGUNAN DICOKOK POLISI

POSKOTA.CO – Petugas Polisi Resor (Polres) Pamekasan, Jawa Timur, mencokok seorang kuli bangunan karena gara-gara membawa barang haram jenis sabu-sabu.

“Penangkapan dilakukan sekitar pukul 19.30 WIB di pinggir jalan depan warung Rahmat, Jalan Raya Nyalaran, Kelurahan Kowel, Pamekasan,” ujar Kasubag Humas Polres Pamekasan AKP Osa Maliki, Kamis (21/7).

AKP Osa Maliki menjelaskan, tersangka berinisial MH (19), warga Kampung Masjid, Kelurahan Kowel, Kecamatan Kota, Pamekasan. Penangkapan berhasil dilakukan berkat informasi dari masyarakat yang menyebutkan, tersangka selama ini memang sering mengonsumsi barang haram tersebut.

Atas informasi itu, polisi selanjutnya melakukan penyelidikan dengan memantau kegiatan MH. “Kami menerima informasi lagi bahwa MH sedang melakukan traksaksi narkoba, dan kami langsung menerjunkan tim ke lapangan,” ucap Osa Maliki.

Hasilnya, petugas menemukan gelagat mencurigakan dan langsung melakukan penggeledahan terhadap MH. “Ternyata yang bersangkutan ini memang membawa narkoba jenis sabu-sabu, sehingga MH akhirnya digelandang petugas ke Mapolres Pamekasan,” terang Osa Maliki.

Tersangka seorang kuli bangunan berinisial MH (19) pembawa narkoba jenis sabu-sabu saat digelandang ke Mapolres Pamekasan, Jawa Timur.
Tersangka seorang kuli bangunan berinisial MH (19) pembawa narkoba jenis sabu-sabu saat digelandang ke Mapolres Pamekasan, Jawa Timur.

Barang bukti lainnya yang ditemukan petugas ialah satu kantong plastik klip kecil berisi narkotika jenis sabu dengan berat kotor sekira 0,26 gram, satu lembar kertas rokok ukuran 2×5 cm, dan satu HP.

Perbuatan kuli bangunan ini dijerat Pasal 112 Ayat (1) Sub Pasal 127 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman minimal empat tahun penjara. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)