DUA JAMBRET HP MILIK WANITA DIKELAPA GADING DITANGKAP – Poskota.co
Wednesday, September 20

DUA JAMBRET HP MILIK WANITA DIKELAPA GADING DITANGKAP

Copet yang ditangkap di Kelapa Gading
Copet yang ditangkap di Kelapa Gading

POSKOTA.CO – Dua jambret HP milik wanita yang lagi asyik cari pokemon di Bundaran Lapiazza, Jalan Boulevard Timur, Kelapa Gading, Jakarta Utara berhasil ditangkap polisi.”Kedua pelaku AF,17, dan AA,20,” sudah dijebloskan ke sel,” ungkap Kapolsek Kelapa Gading, Kompol Argowiyono, Kamis (28/7).

Kedua tersangka merupakan spesialis jambret lintas wilayah. Mereka menyasar wanita pengendara sepeda motor dan pejalan kaki yang sedang menggunakan handphone dan membawa tas.

Selain di wilayah Jakarta Utara, dua tersangka juga melakukan aksinya di Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. Kedua pelaku pun sudah lupa berapa kali ia melakukan kejahatan penjambretan. “Tempat lain saya lupa Pak,” ungkap salah satu pelaku AA.

POKEMON

Aksi penjambretan itu terjadi pada Jumat (15/8) lalu. Korban Budiyanti Hartanto, mengeluarkan handphonenya membuka aplikasi Game Pokemon. Tiba-tiba dari arah samping dua tersangka yang berboncengan sepeda motor Shogun hitam B 6995 KGS langsung menyambar handphone tersebut.

Saat dirampas, korban dengan tersangka yang duduk di boncengan sempat tarik-tarikan dan akhirnya berhasil dikuasai tersangka lantaran kalah kuat. Meski demikian sambil berlari korban kemudian berteriak ‘jambret’.

Suara teriakan korban didengar anggota Resmob yang saat itu sedang lintas wilayah di area Bundaran Lapiazza Kelapa Gading, petugas kemudian mengejar dibantu pengendara lain yang melintas. Ketika kabur ke arah Jalan Boulevard Timur, tersangka kemudian salah jalan dan masuk ke jalan buntu area parkiran sepeda motor RS Gading Pluit.

Kedua tersangka yang memiliki tatto disekucur tubuhnya ini berusaha kabur dengan meninggalkan sepeda motornya. Dan petugas berhasil menangkap AA tanpa perlawanan. Sedangkan rekannya T berhasil kabur. Petugas kemudian melakukan pengembangan mengejar tersangka T dan berhasil mengamankannya di rumahnya.

“Tersangka T ternyata residivis kasus yang sama pernah ditangkap Polsek Pulao Gadung. Kami masih kembangkan terus kasus ini,” tukas Kapolsek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)