oleh

Pengasuh Darunnajah Hadiyanto Arief Paparkan soal Pengelolaan Pesantren Modern

POSKOTA.CO – Untuk menciptakan pesantren yang lebih baik, mandiri dan modern, tidaklah mudah. Banyak hal yang perlu dijalankan meski dalam pengelolaannya banyak dijumpai halangan dan tantangannya. Salah satunya adalah soal menyeimbangkan antara kultur dan strukturnya.

Pimpinan pondok pesantren Darunnajah, Dr. H. Hadiyanto Arief, SH, MBs, menyebutkan dalam pengelolaan pesantren agar lebih baik adalah dari masalah tantangan. Hal ini mengingat karena tantangan yang paling besar dalam pengelolaan pesantren adalah menyeimbangkan antara kultur dan struktur.

“Kita tahu bahwa kultur adalah faktor endogenes dari pesantren yang tidak dapat dihilangkan. Sedangkan struktur adalah sebuah sistem yang ditetapkan oleh regulator (pemerintah) yang harus diikuti oleh pesantren itu sendiri,” ucap pengasuh Pesantren Darunnajah yang sudah sangat modern dalam pengelolaan manajemen pondok pesantrennya.

Dalam pemaparannya sebagai pembicara pertama pada acara pelatihan Pengelolaan Pesantren Berbasis IT secara virtual yang diselenggarakan Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Trisakti bekerja sama dengan Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik (IAI KPD), di Jakarta, kemarin Hadiyanto juga menekankan pentingnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan manajemen pesantren.

Prof Dr.M.Nizarrul Alim .AK.MS,c .CA, pembicara acara pelatihan Pengelolaan Pesantren Berbasis IT secara virtual.

“Hal ini penting mengingat karena dua faktor ini akan sangat menentukan perkembangan dan kemajuan pesantren,” ucapnya seraya menyebutkan selain itu pesantren juga harus mempunyai tiga pilar kewirausahaan sosial yang selanjutnya disebut sebagai social enterpreneurship yang meliputi quality life focus, problem solving dan innovation.

Jadi pada intinya ia juga menyebutkan kalau letak kemandirian dan keunikan pesantren merupakan ciri khas dari pesantren kebanyakan di Indonesia.

Kepada Poskota.co, salah satu peserta webinar nasional, KH. Muhammad Sodik menyebutkan webinar atau web-seminar secara nasional ini diikuti oleh lebih dari 500 peserta dari seluruh Indonesia.

Acara diawali dengan pemutaran video perkenalan konsentrasi yang ada di Maksi FEB Usakti. Diantaranya adalah konsentrasi Pemeriksaan Akuntansi, Akuntansi Sektor Publik, Akuntansi Perpajakan, Akuntansi Pelaporan dan Akuntansi Manajemen dan Akuntansi Keuangan dan Bisnis Syariah.

“Acara itu sendiri dipandu oleh Dr. Rossje V Suryaputri, MM yang merupakan Sekprodi Maksi FEB Usakti, dan Dr. Slamet Wiyono, AK., MBA selaku moderator sekaligus koordinator konsentrasi Akuntansi Keuangan dan Bisnis Syariah,” ucap Ketua PC DMI (Dewan Mesjid Indonesia) Bekasi Selatan ini, Sabtu (1/8/20)

Lokasi kampus ada di Kampus Mega Kuningan, Kampus F Cempaka Putih, Kampus Grogol dan Kampus Sentul. Acara dimulai dengan sambutan pembukaan yang disampaikan oleh Dr. Sekar Mayangsari, Ak., MSi., CA selaku ketua program studi Magister Akuntansi Trisakti.

Sekar menyampaikan bahwa salah satu tanggung jawab perguruan tinggi adalah mengawal agar pengelolaan pesantren menjadi lebih terstruktur dan lebih baik sesuai dengan pedoman akuntansi pesantren yang telah dirumuskan sesuai dengan UU Pesantren dan pedoman akuntansi pesantren yang telah disusun oleh IAI dan didukung oleh Bank Indonesia.

“Di era revolusi industri 4.0 diharapkan manajer pesantren dapat mengelola pesantren dengan menggunakan basis tekhnologi informasi sehingga dapat mewujudkan sebuah tata kelola pesantren yang mandiri,” ucap Sekar.

Menurut Muhammad Sodik menyangkut soal tata kelola pesantren, disampaikan oleh Prof. Dr. M. Nizarul Alim, Ak. MSc., CA yang intinya menyebutkan bahwa ada beberapa pilar tata kelola keuangan pesantren yaitu akuntabilitas, transparansi, responsibilitas, independensi, kewajaran / keadilan dan perlu adanya dewan pengawas syariah.
Pada perkembangannya pesantren mengalami evolusi dari majelis ilmu, pondok pesantren salaf / diniyah dan akhirnya berkembang menjadi pondok pesantren multi unit / multi organisai.

“Ketika pondok pesantren sudah menjadi sebuah organisasi yang multi maka disinilah diperlukan adanya pengelolaan secara akuntabel,” jelas Nizarul.

Sementara Arif Hidayat yang menjelaskan tentang aplikasi SanTren, yaitu aplikasi software akuntansi pesantren yang nantinya akan digunakan untuk membantu pengurus pesantren dalam menyiapkan laporan keuangan yang berpedoman ISAK 35.

Sodik menambahkan dalam acara webinar secara online ini respon para peserta sangat antusias dan mendukung seluruh acara pelatihan terutama aplikasi SanTren. Diharapkan kedepan Maksi FEB Trisakti mampu memberikan sumbangsih kepada masyarakat luas melalui pendampingan pelatihan akuntansi dengan aplikasi SanTren tersebut. (budhi/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *