oleh

Pembuat dan Penyebar Fitnah dari Zaman Rasul hingga Era Digital

ALLAH SWT berfirman dalam surah Albaqoroh ayat 191 dan 217, “Dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” (QS Al Baqoroh 191) serta  “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh,” (QS Al Baqoroh 217).

Dalam dua ayat tersebut Allah menegaskan betapa bahayanya fitnah dan pembuat fitnah. Perbuatan tidak terpuji ini sejak zaman dahulu hingga era digital sekarang terus berkembang subur. Tidak menutup kemungkinan fitnah ini dimenej (dikelola) untuk meraih suatu keuntungan ekonomis maupun politik. Tidak heran fitnah berseliweran di mana-mana, termasuk di dunia maya.

Dalam sejarah Islam diceritakan bahwa setelah kepala-kepala suku Quraisy gagal membujuk Nabi Muhammad SAW agar meninggalkan dakwah Islam nya, maka kaum Quraisy di Mekkah, Arab Saudi, beralih strategi untuk memusuhi Nabi dan keluarga, yaitu dengan cara menebar fitnah dan menganiaya pengikut Islam pada saat itu. Malah raja fitnah pada waktu itu berasal dari keluarga Nabi yaitu Abu Lahab.

Abu Lahab beserta istrinya gencar dengan serbuan fitnah. Padahal Nabi Muhammad pada waktu usia 35 tahun memperoleh gelar `Al Amin` dari kaum Quraisy. Yang dikenal hidup tanpa aturan. Hanya bermodalkan peraturan produk manusia belaka. Maka fitnah lebih keji dari pembunuhan. Rasulullah SAW sendiri menjadi sasaran fitnah, dan akhirnya Rasulullah bersama pengikut setia hijrah ke Kota Madinah.

Dapatlah dipahami bahwa fitnah itu sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Kebencian terhadap perkembangan ajaran Islam dihancurkan oleh orang dalam sendiri. Pengamalan yang tidak berdasar, wawasan keagamaan yang tidak sempurna, akan menambah produk pemikiran yang tidak bernash. Oleh karena, fitnah era moderan ini akan banyak variasi dan sarana yang digunakan.

PETUNJUK

Al Qur`an sebagai pedoman ajaran agama (Islam) sudah pasti (qath`i), petunjuk dan tidak perlu diragukan. Bahayanya apabila ada orang yang tidak mengamalkan ajaran agamanya dengan benar dan taat, tapi tampil seakan-akan mengerti tentang agama, mempengaruhi pikiran orang lain dengan pemahaman keliru. Pemahaman dangkal agama. Ini juga termasuk katagori fitnah ala zaman digital. Malah menilai ajaran agama tidak perlu, yang dibutuhkan adalah cukup berperilaku baik di mata manusia.

Pada zaman jahiliyah dahulu semua kehidupan serba bebas. Tapi mereka masih mencari nilai-nilai kebenaran  Tuhan-nya (berhala). Tidak ada aturan yang mengikat, semua diatur oleh penguasa. Namun begitu ajaran Islam turun melalui wahyu yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, maka kehidupan menjadi teratur dan tertib. Contoh nya ajaran Islam membasmi sistem perbudakan, seks bebas dan sebagainya. Maka tidak tepatlah jika ada yang mengatakan bahwa agama sekadar `tameng` untuk melakukan tindak kejahatan.

Agama itu membawa kedamaian dan kesejukan iman. Bukan sebaliknya, karena itu jika ada yang keliru menafsirkan dan mengamalkan agamanya, itulah yang salah. Bukan ajaran agama itu yang dipersalahkan. Maka berhati-hati untuk tidak menebar fitnah. Dampak fitnah ini membekas seumur hidup, maka wajarlah ganjaran hukumannya akan lebih berat dari kasus pembunuhan.

Sadarlah bahwa pembuat konten fitnah dan penyebar fitnah sama-sama dosa besar. Untuk menghindarinya, maka ajaran agama (Islam) yang menganjurkan agar informasi yang bertaburan di dunia maya itu ditabayyunkan, chek and rechek, konfirmasi. Tidak asal terima bulat-bulat, apalagi diserbarluaskan. Perancang materi fitnah untuk meraih keuntungan materi sungguh berbahaya. Dalam konteks agama hukumnya haram. Berdosa kalau dilakukan. Wassalam. (syamsir bastian munthe/pensiunan wartawan)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *