oleh

‘New Normal’ di Mata Pensiunan Wartawan

-Komunitas-159 views

POSKOTA.CO – Beberapa hari ini istilah ‘new normal’ menarik perhatian banyak orang. Apalagi di tengah upaya pencegahan Covid 19 dan perpanjangan waktu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), di mana-mana.

Sebagai pensiunan wartawan ibukota, new normal ini juga mengusik pikiran saya. Orang yang pernah diasah kritis terhadap gejala sosial, agama, politik, ekonomi, masyarakat kalangan bawah. Karena itu, new normal dalam konteks kekinian bukanlah makna yang enteng, tapi sesungguhnya berat dan konfrehensif.

New normal bukan isyarat bahwa Covid 19 telah berakhir. Akan tetapi new normal menuntut anggota masyarakat hidup lebih disiplin diri karena Covid 19 belum usai atau punah dari bumi pertiwi. Sementara kemampuan pemerintah sangat terbatas.

Dengan kata lain, pemerintah kemungkinan sudah tidak punya kemampuan yang cukup untuk terus menerus membantu rakyat melalui penyaluran bantuan sosial (bansos) sebagai konsekuensi kebijakan stay at home.

Kesadaran dan kedisiplinan warga sangat diperlukan. Tumbuh kembangkan kesadaran warga, yakni betapa pentingnya protokol kesehatan pada setiap lini kehidupan. Jangan sampai ada asumsi keliru bahwa new normal, ditafsirkan kembali kepada kehidupan normal seperti pada sebelum Covid datang, serba hidup bebas.

Untuk menumbuhkan kesadaran dan kedisiplinan anggota masyarakat, sangat tepatlah ada daerah percontohan new normal. Segala sesuatu dalam beraktifitas selalu mengedepankan kesadaran dan disiplin warga.

New normal bukan petanda Covid sudah berakhir, tapi sebaliknya, aturan kehidupan makin ketat. Ulama, tokoh agama, masyarakat, diharapkan dominan pada fase new normal. Pemerintah dan unsur lain bukan lagi di depan, tapi sudah pada lapis pendukung.

Jika new normal berhasil, otomatis penggunaan anggaran pemerintah, pemda dapat dihemat. Kegiatan ekonomi, ibadah, sosial dll kembali bergerak, tapi protokol kesehatan tidak terabaikan.
Sungguh tepat bahwa Covid telah banyak mengajarkan makna dan hikmah kehidupan umat manusia.

Wassalam.
(syamsir bastian – pensiunan wartawan ibukota)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *