oleh

Musibah Merupakan Pencuri Dosa

ALLAH subhanahu wa taala telah berfirman, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar; (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Innalillahi wa innailaihi raaji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).(QS. Al-Baqarah, 2:155-156).

Rasulullah shalallahu alaihi wassallam telah bersabda, “Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memberinya cobaan supaya Allah mendengar tadharru’-nya (rintihan meminta kepada-Nya). (HR. Baihaqi).

Musibah atau cobaan mempunyai dua pengertian, yaitu adakalanya untuk mengingatkan dan ada kalanya untuk membersihkan. Dan dalam hadits ini musibah yang dimaksud ialah untuk membersihkan atau untuk meningkatkan derajat hamba yang bersangkutan. Bilamana Allah menyukai seorang hamba, maka Dia mengujinya dengan musibah agar Dia mendengar rintihannya.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukuman untuknya di dunia, dan apabila Dia menghendaki keburukan bagi hamba-Nya maka dia menahan hukuman dosanya agar kelak di hari kiamat ia menemuinya.” (HR. Thabrani).

Dalam hadits ini disebutkan bahwa sesungguhnya di antara dosa itu terdapat suatu dosa yang tidak dapat dihapuskan kecuali hanya dengan musibah yang menimpa pelakunya. Musibah ini merupakan hukuman yang disegerakan untuknya di dunia sehingga kelak apabila ia mati, maka dirinya bersih dari dosa dan dimasukkan ke dalam surga. Dan begitu pula sebaliknya, bilamana Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba-Nya, maka Dia membiarkannya selamat dari siksa-Nya di dunia ini. Makin lama ia hidup di dunia semakin banyak dosa-dosa yang dikerjakannya sehingga kelak di akhirat ia akan menerima pembalasannya yang setimpal.

Dalam hadits yang lain dinyatakan bahwa, “Apabila dosa seorang hamba makin banyak, padahal ia tidak mempunyai amal perbuatan yang dapat menakfir (melebur)nya, maka Allah mencobanya dengan kesedihan, agar kesedihannya itu dapat menjadi kifarat (penebus atau pencuri) baginya.” (HR. Ahmad melalui Aisyah r.a.).

Dalam hadits ini disebutkan jenis musibah untuk (Liyukaffirahaa ‘Anhu) membersihkan, melebur atau menghapus dosa seorang hamba, yaitu berupa kesedihan. Hal ini terjadi manakala hamba yang bersangkutan tidak mempunyai tabungan amal saleh yang dapat menghapus dosa-dosanya.

Nabi Saw. telah bersabda, “Tiada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim kecuali Allah menjadikan musibah tersebut sebagai kifarat (tebusan-pencuri) bagi dosanya, sekalipun musibah itu berbentuk duri (tertusuk duri).” (HR. Syaikhan).

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, “Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian yang semisal dengannya dan seterusnya; seorang dicoba sesuai dengan kadar agamanya; apabila agamanya kuat maka cobaannya keras, dan apabila agamanya lemah maka ia mendapatkan cobaan sesuai dengan kadar agamanya. Cobaan terus menerus menimpa hamba Allah tak pernah lepas darinya sebelum ia berjalan di muka bumi tanpa mempunyai dosa lagi.” (HR. Bukhari).

Setiap orang mendapat cobaan sesuai dengan kadar agamanya, semakin teguh agamanya, semakin keras cobaan yang diterimanya. Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian yang sederajat dengan mereka, lalu yang lebih rendah dari mereka hingga yang terendah, demikianlah seterusnya. Tiada seorang hamba pun yang dikasihani oleh Allah, melainkan ia menerima cobaan.

Dalam hadits yang lain beliau menyatakan, “Sesungguhnya orang-orang saleh itu diperkeras (cobaannya), dan sesungguhnya tiada suatu musibah pun yang menimpa orang mukmin, berupa duri (yang menusuk) hingga lebih dari itu, kecuali dihapuskan satu kesalahan (dosa) darinya dan diangkatkan satu derajat untuknya.” (HR. Baihaqi melalui Aisyah r.a.).

Dalam hadits terdahulu telah disebutkan, bahwa seseorang mendapat cobaan dari Allah sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kuat, maka cobaan yang menimpanya kuat pula, dan apabila agamanya lemah, maka ia mendapat cobaan sesuai dengan kadar agamanya. Sementara dalam hadits ini disebutkan bahwa orang-orang saleh itu cobaannya keras. Jadi beruntunglah menjadi orang mukmin karena tiada suatu musibah pun yang menimpanya, sekalipun ringan; dihapusnya atau dicurinya darinya satu dosa dan diangkatkan untuknya satu derajat.

Juga dalam hadits lain beliau telah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba mengerjakan suatu perbuatan dosa tetapi apabila ia ingat hal tersebut, maka ia merasa sedih; apabila Allah melihatnya benar-benar bersedih hati, maka Dia mengampuni apa yang diperbuatnya itu sebelum ia mengerjakan kifaratnya (tebusannya) tanpa salat dan pula tanpa shaum.” (HR. Ibnu Asakir melalui Abu Hurairah r.a.).

“Bilaa Shalaatin Walaa Shiyaamin “, tanpa memakai salat dan puasa sebagai kifaratnya. Hal ini mempunyai pengertian bahwa salat dan puasa itu dapat dijadikan sebagai kifarat bagi perbuatan dosa karena salat dan puasa merupakan amal baik. Dalam hal ini Allah berfirman, “Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan sore) dan pada permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud: 114).

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, “Tiada suatu kepayahan pun yang menimpa seseorang muslim, tiada suatu kelelahan pun, tiada suatu kesusahan pun, tiada suatu kesedihan pun, tiada suatu penyakit pun, dan tiada suatu derita pun disebabkan tertusuk duri (umpamanya), kecuali Allah menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya karena hal tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim).

Beruntunglah menjadi orang muslim karena bila suatu musibah, baik yang besar maupun yang kecil menimpanya, maka sebagian dari dosa-dosanya dihapuskan karena musibah tersebut. Semakin banyak musibah yang menimpanya, semakin banyak pula dosanya yang dihapuskan oleh Allah Swt.

Juga dalam hadits yang lain Nabi SAW. telah bersabda, “Aku heran terhadap orang mukmin atas keluhannya sewaktu ia sakit; seandainya ia mengetahui pahala yang diperolehnya sewaktu ia sakit, niscaya ia lebih senang sakit hingga bertemu dengan Allah Azza wa jalla (hingga ia mati).” (HR. Thabrani).

Tiada suatu musibah pun yang menimpa diri seorang mukmin, melainkan ada pahalanya. Apabila ia mengeluh dan merintih dalam musibahnya, maka pahalanya itu akan hilang. Seandainya ia mengetahui pahala yang diterimanya manakala ia bersabar, niscaya ia lebih memilih terus tertimpa musibah hingga ia meninggal dunia. Pengertian musibah ini luas mencakup musibah yang menimpa badan, harta, dan lain-lainnya.

Semoga kita tetap sabar dan tawakal serta ikhlas dalam menerima musibah, sehingga menjadi hamba yang beruntung dan derajat yang tinggi dengan dihapusnya dosa-dosa kita. Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *