oleh

Manusia Tanpa Agama Akan Kosong Tanpa Makna

ASUMSI yang menyatakan utamakan budi pekerti daripada ajaran agama, sebenarnya pendapat tersebut sungguh keliru. Apabila opini ini sengaja dibangun untuk mengabur nilai-nilai agama (Islam) dalam tatanan kehidupan umat manusia, hal itu sangat berbahaya. Bisa-bisa faham demikian berbau sekuler.

Ajaran agama harus ditempatkan pada posisi utama dan terutama.Tidak dapat ditempatkan pada posisi bawah. Atau diamalkan hanya setengah-setengah. Atau pada kondisi- kondisi tertentu saja perlu agama. Karena itu, ajaran agama (Islam) sarat dengan aturan dan hukum, harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah sebagai konsekuensi nya sebagai seorang muslim, yang telah mengucapkan dua kalimah syahadat, saat ikrar masuk Islam dan  pada  setiap waktu sholat.

Masuklah kepada ajaran Islam secara total (kaffah). Tidak boleh sekadar identitas diri, atau hanya butuh ajaran Islam pada saat mau nikah atau ada keluarganya meninggal dunia, maka ingin proses pemakaman nya pun dilakukan secara Islam. Demikian juga bidang keilmuan, sebaiknya ilmu agama diperkuat terlebih dahulu sebagai pondasi dasar.

Sementara aktivitas lainnya, ajaran agama selalu dinomorduakan. Bahkan lebih parah lagi dianggap sebagai penghalang suatu kemajuan, bertentangan dengan budaya atau kultur suatu bangsa.  Agama dianggap hanya mampu melarang ini dan itu, sorga dan neraka. Pendapat demikian sungguh keliru dan bisa jadi dasar pemikiran tersebut jauh dari nilai-nilai agama.

Nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT ke muka bumi ini adalah untuk  memperbaiki akhlaq manusia.  Bukan merusak peradaban manusia. “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” (Al Hadist).

Berdasar dalil ini, sungguh jelaslah bahwa umat manusia diperintahkan untuk berbuat baik, bergaul, bersosialisasi dengan orang lain  dalam bingkai akhlaqul karimah.

Budi pekerti yang luhur itu apa? Seorang muslim tentulah mengambil contoh dan suri teladan Nabi Besar Muhammad SAW.  Sebagaimana Firman Allah SWT, “Dan sesungguhnya Engkau (Wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang Agung.” (QS Al Qalam 4).

Istri Rasul, Siti  A`isyah pernah ditanya sahabat tentang akhlaq Nabi Shallahu `alaihi Wassalam, lalu dijawab A`isyah bahwa akhlaq beliau adalah Al Qur`an.

Maka barangsiapa yang ingin tahu akhlaq seorang Rasul yang menjadi idola umat Islam dunia, ya Iqra (baca) dan pelajari Al Qur`an, sebab Al Qur`an adalah petunjuk yang tidak menimbulkan keraguan sedikit pun.

Rasulullah meninggal umatnya tidak meninggalkan warisan harta benda. Rasulullah meninggalkan warisan yang amat mulia, yaitu Al Qur`an dan Sunnah. Karena itu, yang perlu diedukasi di tengah umat beragama adalah peningkatan pengamalan agama sesuai kepercayaan masing-masing. Bukan menebar pendapat bahwa agama itu tidak utama, tapi cukup bermodalkan berbudi pekerti. Astaghfirullah.

Budi pekerti, akhlaq dan adab itu bersumber dari Al Qur`anul Karim dan Al Hadist. Bagaimana mau berbudi pekerti, kalau ajaran agamanya tidak diamalkan dengan baik, atau malah dipisahkan antara budaya, ekonomi, sosial dan politik dengan ajaran agama? Jadi. Budi pekerti menurut perspektif Islam termaktub dalam Al Qur`an dan Hadist. Titik!

Sekali lagi, moral atau budi pekerti tidak bisa dipisahkan dengan agama. Sebab agama berfungsi menjadi pedoman dan petunjuk arah kehidupan manusia. Manusia tanpa agama akan kosong tanpa makna. Hidupnya akan zonk tanpa arah atau petunjuk/bimbingan. Apabila ajaran agamanya diamalkan dengan baik dan sempurna, yakin lah aktivitas hidupnya akan agamis, pola pikirnya pun Islami. Ia akan tahu untuk apa ia lahir ke dunia ini. Kemudian ia tinggal di bumi dan langit milik siapa?

Firman Allah SWT, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiyaa 107).

Tidak perlu ragu atau was-was, bahwa ajaran Islam itu Rahmatan lil`alamin. Tidak hanya melindungi manusia, tapi juga semesta alam akan merasakannya. Inilah tanggungjawab seorang muslim di permukaan bumi ini memahami ajaran agamanya dengan benar dan tepat.

Sejauh mana tingkat pengamalan nya terhadap agama yang dianutnya, barometernya antara lain seseorang itu mampu berbuat baik kepada semua orang, termasuk makhluk lain,  seperti tumbuh-tumbuhan dan alam. Menghindari sesuatu dari yang menyakiti, atau menahan diri ketika disakiti. Setidaknya berbuat baik pada diri sendiri dan keluarga.

Inilah makna sederhana akhlaq mulia. Yang jelas, budi pekerti dan akhlaq itu ada pada ajaran agama, sekaligus pembimbing dan penuntut hidup manusia di dunia dan akhirat. Kalau hanya ukuran berbuat baik kepada sesama, tolok ukurnya apa? Kalau bukan agama. Allahu a`lam. (syamsir-pensiunan wartawan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *