oleh

Karsidi Diningrat: Jangan Menunda-nunda Urusan Kesempatan

RASULULLAH Shalallahu Alaihi Wassalam telah bersabda: “Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya”. (HR Ibnu Majah).

Dalam hadits lain beliau telah bersabda, : “Tiada sesuatu yang paling disesali oleh penghuni surga kecuali satu jam yang mereka lewatkan (di dunia) tanpa mereka gunakan untuk berzikir kepada Allah Azza wajalla.” (HR. Adailami).

Salah satu sunnah kehidupan adalah bahwa tiap detik yang telah berlalu tidak akan mungkin kembali untuk kedua kalinya, dan tiap kesempatan yang telah lewat tidak akan kembali lagi.

Sikap menunda-nunda urusan adalah sikap yang timbul dari ketidakpedulian terhadap sunnah kehidupan ini. Misalnya, seseorang mengatakan : “Nanti saya akan bertaubat kepada Tuhan saya”, “Nanti saya akan berbuat baik kepada kedua orang tua saya,” “Nanti saya akan membayar hutang-hutang saya.” “Nanti saya akan melakukan ini dan itu,” dan nanti-nanti yang lainnya.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, : “Sesungguhnya Allah menyukai apabila seseorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan lalu dia menyelesaikannya dengan baik.” (HR. Thabrani).

Hadits ini merupakan penjelasan dari apa yang terkandung dalam firman-Nya: “Dan katakanlah, “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu.” (QS. At-Taubah, 9:105)

Waktu terus berjalan, namun tidak ada satu pun dari yang diucapkannya itu yang dia kerjakan. Supaya kita memahami bahaya sikap tersebut, kita harus memperhatikan Sabda Rasulullah Saw, : “Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?” Nabi Saw menjawab, “Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” Sahabat tadi bertanya kembali, “Dan bagaimana orang yang paling buruk?” Nabi Saw menjawab, “Adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amal perbuatannya.” (HR. Athabrani & Abu Na’im).

Oleh karena itu kita sekalian tidak mengetahui berapa banyak lagi umur kita yang masih tersisa, dan Allah pun tidak memberitahukan kepada kita kapan saat kematian kita sehingga ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda amal kebajikan.

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, : “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang yang mengembara atau orang yang sedang bepergian. Sesungguhnya Ibnu Umar r.a. selalu mengatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, janganlah engkau menunggu waktu pagi hari, apabila engkau berada di pagi hari, jangan engkau menunggu waktu sore hari. Kerjakanlah dalam masa sehatmu untuk bekal di masa sakitmu, dan masa hidupmu untuk bekal sesudah matimu.” (HR. Ibnu Umar r.a.).

Mungkin saja umur kita telah berakhir pada saat kita belum sempat melakukan pekerjaan yang kita tunda-tunda. Janganlah kita tunda pekerjaan (kesempatan) hari ini sampai besok hari.

Nabi Saw telah bersabda, : “Ada dua nikmat yang selalu memperdaya kebanyakan manusia yaitu, sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari).

Dikatakan demikian karena kebanyakan manusia apabila dianugerahi sehat oleh Allah Swt., ia lupa kepada-Nya dan tidak membuat bekal yang bermanfaat baginya di hari kemudian, yaitu di akherat nanti. Begitu pula orang yang mempunyai waktu senggang atau waktu menganggur, ia tidak menggunakannya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya di hari kiamat nanti.

Kata-kata hikmah yang terkenal, “Gunakanlah setiap ada kesempatan.” Ingatlah selalu akan hikmah para sahabat yang berbunyi, “Orang yang suka segera mengerjakan urusan bertanya kenapa harus ditunda, sedangkan orang yang suka menunda-nunda urusan mencari-cari alasan untuk menunda.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, : “Ambillah kesempatan lima sebelum lima perkara lainnya, yaitu: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, hidupmu sebelum mati, dan senggangmu sebelum sibuk.” (HR. Al Hakim & Al Baihaqi).

Hadits ini menganjurkan agar kita menggunakan kesempatan-kesempatan yang baik untuk mengerjakan amal shaleh sebanyak-banyaknya agar di kala kesempatan itu tidak ada maka kita tidak kecewa karena kepergiannya.

Allah ‘Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi): “Hai anak Adam, Aku menyuruhmu tetapi kamu berpaling, dan Aku melarangmu tetapi kamu tidak mengindahkan, dan Aku menutup-nutupi (kesalahan-kesalahan) mu tetapi kamu tambah berani, dan Aku membiarkanmu dan kamu tidak memperdulikan Aku.”

“Wahai orang yang esok hari bila diseru oleh manusia akan menyambutnya, dan bila diseru oleh Yang Maha Besar (Allah) dia berpaling dan mengesampingkan, ketahuilah, apabila kamu minta Aku memberimu. Jika kamu berdoa kepada-Ku Aku kabulkan, dan apabila kamu sakit Aku sembuhkan, dan jika kamu berserah diri Aku memberimu rezeki, dan jika kamu mendatangi-Ku Aku menerimamu, dan bila kamu bertaubat Aku ampuni (dosa-dosa)mu, dan Aku Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih.” (HR. Tirmidzi & Al Hakim). Wallahu A’lam bish Shawab.

Penulis adalah:

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

* Anggota PB Washliyah Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *