oleh

Jadilah Kita Berakhlak

RASULULLAH shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, “Akhlak yang mulia itu ada sepuluh macam, terkadang semuanya terdapat dalam diri seseorang tetapi tidak terdapat dalam diri anaknya; terkadang semuanya terdapat dalam diri seorang anak, tetapi tidak terdapat dalam diri ayahnya; terkadang semuanya terdapat dalam diri seorang hamba, tetapi tidak terdapat dalam diri tuannya. Allah membagikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya hidup bahagia. Yaitu: jujur dalam berbicara, pemberani dalam medan perang, selalu memberi orang yang meminta, selalu membalas perbuatan baik, memelihara amanat, bersilaturahmi; memelihara hak-hak tetangga dan teman, menghormati tamu; dan yang paling utama di antara semuanya adalah malu”. (HR. Hakim melalui Aisyah r.a.)

Kata akhlak berasal dari akar kata khaluqa_ yang berarti lembut, halus, dan lurus; dari kata khâlaqa yang berarti “bergaul dengan akhlak yang baik”; juga dari kata takhallaqa yang berarti “berwatak”.

Akhlak ialah kesatriaan, kebiasaan, perangai, dan watak. Definisi akhlak ialah: kaidah-kaidah ilmiah untuk menata dan mengatur perilaku manusia. Ilmu akhlak membahas tentang akhlak itu sendiri. Ilmu akhlak termasuk salah satu cabang hikmah’ amali. Oleh karena itu, ilmu akhlak dinamakan juga hikmah khulqiyyah. Akhlak adalah salah satu buah dari akal dan hasil dari penggunaan akal secara benar ( hikmah amaliyyah), maka bagian dari hikmah ‘amaliyyah adalah akhlak, yang salah satu bagiannya adalah hikmah.

Salah satu tuntutan akal dan hikmah adalah bahwa seorang manusia harus berakhlak. Akhlak adalah tindakan dan perilaku tengah-tengah, tidak berlebihan (ifrâth) dan tidak kurang (tafrith).

Allah subhanahu wata’ala menetapkan akhlak demikian karena akhlak adalah alat yang dapat membahagiakan kita di dalam kehidupan dunia dan akherat. Sebagai contoh, Allah Swt menjadikan sifat pemberani (syaja’ah) sebagai sifat pertengahan di antara sifat nekat (tahawwur) dan sifat pengecut (jubn). Kita tidak boleh bersikap ifrâth dalam sifat berani sehingga menyebabkan kita jatuh pada sifat nekat, sebagaimana juga kita tidak boleh bersikap tafrîth sehingga menjerumuskan kita kepada sifat pengecut. Sifat nekat akan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan, sementara sifat pengecut merupakan kelemahan. Berani adalah pertengahan di antara kedua sifat tersebut, dan inilah sifat yang diharapkan.

Akhlak mulia bukanlah sekedar taktik yang bersifat sementara, melainkan suatu sikap yang terus menerus.

Pada hakikatnya, Allah Swt menetapkan akhlak untuk mengatur perilaku manusia, supaya mereka dapat bergaul dengan sesamanya dalam bentuk yang akan mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraañ bagi kita di dunia, dan juga keridhaan Allah Swt di akhirat.

Akhlak seseorang tidak dapat dinilai tatkala dia sedang sendirian, jauh dari manusia dan tidak ada kontak dengan sesama kita. Akhlak seseorang hanya bisa dinilai tatkala dia melakukan hubungan dengan sesama kita, dan akhlaknya diletakkan pada timbangan realita kehidupan. Betapa banyak orang yang berakhlak tatkala sedang jauh dari manusia, namun tatkala dia melakukan kontak sosial maka tersingkaplah jatidirinya yang sebenarnya.

Rasulullah Saw telah bersabda, “Sebaik-baik anugerah yang diberikan kepada manusia adalah akhlak yang baik, dan yang seburuk-buruk yang diberikan kepada manusia adalah hati yang buruk pada rupa yang baik”. (HR. Usamah ibnu Syuraik).

Tiada suatu hal pun yang lebih indah dalam diri seseorang selain dari akhlak yang mulia, dan tiada yang lebih buruk dalam diri seseorang selain dari akhlak yang jahat.

Segala sesuatu yang baik tidak akan tumbuh kecuali pada lingkungan yang baik. Akhlak yang mulia, kebiasaan yang baik, watak yang terpuji adalah lingkungan yang baik bagi tumbuh dan berkembangnya hikmah pada diri manusia. Oleh karena itu, sedikit sekali kita bisa menemukan orang yang mempunyai watak yang buruk dan akhlak yang tercela menjadi orang bijak.

Nabi Saw telah bersabda, “orang-orang yang terpilih di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya”. (HR. Bukhari & Muslim). “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Thabrani melalui Ibnu Umar r.a.). “Tiada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal daripada akhlak yang baik.” (HR. Ahmad melalui Abud Darda).

Dengan kata lain, manusia yang berakhlak mulia mempunyai peluang besar menjadi orang yang bijak, baik dari sisi keilmuan dan keimanan kepada ajaran-ajaran kebenaran yang terkandung dalam al-Qur’an, dari sisi pengalaman, yaitu peletakan sesuatu pada tempatnya, maupun dari sisi pemikiran dan kesadaran.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, “Seorang mukmin yang paling utama Islamnya, ialah terselamatnya orang-orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya; dan orang mukmin yang paling utama imannya ialah yang paling baik akhlaknya; dan seorang muhajir yang paling utama ialah, yang menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah; dan jihad yang paling utama ialah jihadnya seseorang melawan hawa nafsunya demi karena Allah Swt.” (HR. Thabrani melalui Ibnu Umar r.a.).

Dalam hadis yang lain beliau Saw. telah bersabda, “Ada dua macam akhlak yang disukai oleh Allah, dan dua akhlak yang dibenci oleh-Nya. Adapun dua akhlak yang disukai oleh Allah Swt. adalah dermawan dan berani. Adapun dua akhlak yang tidak disukai oleh-Nya adalah akhlak yang buruk dan kikir. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia menjadikannya sebagai amil yang selalu memenuhi keperluan-keperluan orang banyak.” (HR. Baihaqi melalui Ibnu Amr Ibnul ‘Ash).

Sifat yang paling disukai oleh Allah ialah dermawan dan pemberani, sedangkan sifat yang tidak disukai-Nya ialah berakhlak buruk dan kikir.

Kikir merupakan sikap yang tercela dan berakibat buruk bagi pelakunya; sudah berapa banyak orang dari kalangan umat-umat terdahulu binasa karena kekikirannya. Sebagai contoh ialah Qarun yang hidup semasa dengan Nabi Musa a.s. Ia ditelan oleh bumi berikut harta bendanya karena kekikirannya tidak mau membayar zakat. Dan bahkan kekikiran dapat menimbulkan pertumpahan darah dan terinjak-injaknya harga diri serta kehormatan para pelakunya.

Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia menjadikannya sebagai amil yang khusus menangani keperluan orang banyak. Dikatakan demikian karena setiap kali ia menolong seseorang pahalanya akan bertambah; makin banyak orang yang ditolongnya makin banyak pula pahalanya.

Kita harus menjadikan prinsip-prinsip akhlak mulia sebagai acuan dalam bersikap dan bertingkah laku. Dengan potensi akhlakul karimah inilah manusia acapkali terdorong untuk melindungi orang-orang yang lemah, menjatuhkan sangsi terhadap orang-orang yang berbuat jahat, serta bersikap adil dalam menjalankan roda pemerintahan atau pengaturan kehidupan masyarakat dalam berbagai segi, seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *