oleh

Islam Cinta pada Kebersihan

ISLAM adalah agama yang menaruh perhatian penting terhadap masalah kebersihan dan disiplin diri. Di antara tanda kesempurnaan pribadi seorang muslim adalah senantiasa berusaha menjaga kebersihan diri, rumah tangga, maupun lingkungan tempat tinggalnya. Lebih lanjut, bukti-bukti konkret bahwa Islam mencintai kebersihan ialah suruhannya terhadap segenap umat Islam untuk mandi, berwudhu, dan bersuci diri dari kotoran.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Islam itu bersih, maka bersihkanlah diri kalian, karena sesungguhnya tiada yang dapat masuk surga kecuali orang yang bersih.” (HR. ad-Dailami).

Islam adalah agama yang menganjurkan kepada kebersihan dan membenci kekotoran. Seseorang tidak boleh salat kecuali dalam keadaan bersih dan suci, bersih dari najis dan suci dari hadas. Oleh karena itu, dalam hadits lain disebutkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Sepuluh hal yang termasuk fitrah (kebersihan dan kesucian) ialah mencukur kumis, memotong kuku, mencuci sela-sela jari dan persendian, membiarkan (tumbuhnya) jenggot, memakai siwak (pembersih gigi), membasuh rongga hidung, mencabut bulu ketiak, memotong bulu kemaluan, dan beristinja.” Mush’ab (perawi hadits ini), “Saya agak lupa yang kesepuluh, namun kalau tidak salah adalah berkumur-kumur *(al-madhmadhah)* .” (HR. an-Nasa’i).

Dalam hadits lain beliau Saw. bersabda, “Cucilah pakaian kalian, potonglah sebagian dari rambut kalian, bersiwaklah, berhiaslah dan bersihkanlah diri kalian, karena sesungguhnya dahulu kaum lelaki Bani Israil tidak melakukan hal tersebut sehingga istri-istri mereka berzina (menyeleweng).” (HR. Ibnu ‘Asakir melalui Ali k.w.).

Hadits ini menganjurkan kepada para suami agar mereka membersihkan diri dan berhias untuk istri-istrinya. Berhias bukan hanya monopoli bagi para istri, tetapi para suami pun dianjurkan untuk berhias karena sesungguhnya hubungan suami istri itu merupakan hubungan timbal balik, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, “Mereka itu (para istri) adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah, 2:187). Disebutkan dalam hadits ini bahwa dahulu kaum Bani Israil tidak memperdulikan hal ini, akibatnya istri-istri mereka gemar menyeleweng.

Juga dalam hadits lain beliau Saw. bersabda, “Bersihkanlah tubuh kalian, niscaya Allah akan membersihkan diri kalian (dari dosa-dosa kalian), karena sesungguhnya tiada seorang hamba pun yang tidur di malam hari dalam keadaan bersuci melainkan ia selalu ditemani oleh seorang malaikat yang ada pada baju dalamnya; tidak sekali-kali ia membalikan badannya di saat ia tidur melainkan malaikat tersebut berdoa, “Ya Allah, ampunilah hambamu ini, sesungguhnya ia tidur dalam keadaan bersuci.” (HR. Thabrani melalui Ibnu Umar r.a.).

Barang siapa yang tidur dalam keadaan suci dari najis dan hadas, maka semalaman ia ditemani oleh malaikat yang selalu mendoakan untuknya setiap salat, “Ya Allah, ampunilah dia, sesungguhnya dia tidur dalam keadaan bersih.” Disunatkan membersihkan diri terlebih dahulu dari najis dan hadas ketika akan tidur karena Allah Swt. menyukai orang-orang yang membersihkan dirinya.

Nabi Saw. telah bersabda, “Merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim untuk mandi sekali dalam tiap minggu yaitu berkeramas dan menyirami seluruh tubuhnya.” (HR. Abu Hurairah r.a.).

Hadist ini menunjukkan bahwa batas minimal kewajiban mandi ialah seminggu sekali, dan paling utama bila dilakukan pada hari Jumat sebelum seseorang berangkat ke masjid. Mandi di sini adalah selain mandi janabat, tetapi mandi untuk membersihkan tubuh dari bau dan kotoran.

Nabi Saw. telah bersabda, “Mandi di hari Jumat adalah wajib atas setiap orang yang bermimpi sehingga mengeluarkam air mani.” (HR. Abu Sa’id al-Khudri r.a.).

Mandi jinabat itu wajib, kapan pun orang yang bersangkutan mengalaminya, tetapi pada hari Jumat lebih wajib lagi. Hikmahnya ialah untuk membersihkan diri dari hadas besar dan dari kotoran yang melekat pada tubuh, karena kita wajib mengerjakan salat Jumat dan berkumpul dengan orang banyak di dalam masjid.

Dalam hadits yang lain beliau Saw. bersabda, “Bersiwak dapat menyucikan (membersihkan) gigi, dapat memperoleh keridhaan Rabb, dan dapat menjernihkan pandangan mata.” (HR. Thabrani).

Hikmah yang terkandung dalam bersiwak ialah untuk membersihkan mulut hingga gigi dan gusi menjadi sehat dan kuat, pelakunya diridhai oleh Allah Swt. serta berfaedah untuk kesehatan mata, yaitu, dapat memperkuat pandangan mata. Mengingat ketiga hal ini, maka tidak heranlah apabila Nabi Saw. dalam hadits yang lain menekankan kepada umatnya agar bersiwak sebelum mengerjakan salat.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Sesungguhnya Allah baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, murah hati dan senang kepada kemurahan hati, dermawan dan senang kepada kedermawanan. Karena itu bersihkanlah halaman rumahmu dan jangan meniru-niru orang-orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi). Orang-orang Yahudi suka menumpuk sampah di halaman rumah.

“Apabila seorang bersenggama dengan istrinya dan hendak mengulangi, hendaklah dia berwudhu lebih dulu agar lebih segar pengulangannya.” (HR. Muslim). Semoga.

Karsidi Diningrat

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
* Anggota PB Al Washliyah periode 2015-2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *