oleh

Hindari Syahwat Kekuasaan

ALLAH Subhanahu wata’ala telah berfirman dalam surat Ali- Imran, 3: 26, : “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Rasulullah Saw. telah bersabda, : “Rasulullah Saw. berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai dan neraka dikelilingi oleh syahwat.” (HR. Bukhari).

Syahwat cinta kepada kekuasaan, perlu dicatat di sini bahwa masing-masing manusia berbeda-beda dalam hal ini. Ada manusia yang sama sekali tidak memikirkan kedudukan atau kekuasaan. Yang seperti ini jumlahnya sedikit.

Sebaliknya ada manusia yang tidak bisa merasa tenang kecuali jika telah menjadi orang yang berkuasa, baik kekuasaan itu kecil maupun besar. Jika manusia melepaskan tali kendali atas syahwat cinta kepada kekuasaan, maka dia akan berubah menjadi taghut, yang tidak memikirkan apa-apa kecuali kekuasaan.

Dia senantiasa berusaha menguasai orang lain dalam semua urusan yang diterjuninya. Tentunya, dia akan menjadi orang yang sulit mau mendengar dan patuh kepada orang lain. Dia menginginkan seluruh manusia berada di bawah kendali kekuasaannya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : ” … salah satu perkara yang tergolong musibah yang membinasakan, yaitu seorang penguasa bila kamu berbuat baik kepadanya, dia tidak mensyukurimu, dan bila kamu berbuat kesalahan dia tidak mengampuni … ” (HR. Athabrani).

Oleh karena itu, jika manusia terbelenggu oleh cinta kekuasaan maka dia akan terserang penyakit gila akan kebesaran. Dia akan mempertahankan kekuasaannya itu, betapapun besarnya penolakan dan perlawanan yang dilakukan orang lain terhadapnya.

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Khianat paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya”. (HR. Athabrani).

Satu hal yang bisa kita lihat dari para raja dan penguasa, baik pada masa dahulu maupun masa sekarang, adalah bahwa mereka sadar sebagai pihak yang salah dan pihak yang lainlah yang benar. Namun, untuk mempertahankan kekuasaannya, mereka melakukan apa saja yang akan memelihara kekuasaannya, baik itu berupa penyiksaan, intimidasi, penahanan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan represif lainnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian (korupsi). Hati mereka lebih busuk dari bangkai”. (HR. Athabrani). Dalam hadits yang lain beliau Saw. bersabda, : ” … namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah. Dijadikannya orang-orang dungu yang menangani hukum dan peradilan, dan harta berada di tangan orang-orang kikir.” (HR. Addailami).

Kekuasaan, dalam pandangan Islam, bukanlah sebagaimana yang ada dalam pandangan para penguasa di masa sekarang. Para penguasa memandang kekuasaan sebagai tujuan, untuk menguasai ummat manusia dan untuk menikmati berbagai kenikmatan dunia. Sedangkan dalam pandangan Islam, kekuasaan adalah alat untuk mengembalikan ajaran-ajaran agama, menerapkan dasar-dasar ajarannya, dan untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakatnya.

Syahwat terhadap kekuasaan tidak hanya terbatas pada kekuasaan pemerintahan saja, melainkan mencakup kekuasaan dalam bidang apa saja, betapa pun kecilnya. Kecintaan akan kekuasaan inilah yang telah menyebabkan manusia dikuasai olehnya, bukan menguasainya, sehingga dia menjadi budak kekuasaan yang jauh dari hikmah. Demikian juga halnya dengan seluruh syahwat yang lain. Jika manusia melepaskan tali kendali atasnya maka hal itu akan membuatnya jauh dari hikmah, bahkan bisa membunuhnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya”. (HR. Al Bukhari & Muslim).

Dalam hadits yang lain beliau Saw. telah bersabda, : “Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.” (HR. Athabrani).

Dalam hadis yang lain beliau Saw. bersabda, “Merupakan suatu ketetapan dari Allah bahwa tidak sekali-kali sesuatu pun dari perkara duniawi terangkat melainkan Dia pasti bakal merendahkannya.” (HR. Imam Bukhari).

Tiada sesuatu pun di dunia ini yang terus menerus berjaya, melainkan pada suatu saat ia pasti jatuh juga karena memang demikianlah sunnatullah di dunia ini. Dunia berputar dengan para penghuninya, yang tadinya kaya menjadi jatuh miskin dan yang tadinya miskin menjadi kaya, yang tadinya menjabat kedudukan menjadi jatuh jadi bawahan dan yang tadinya jadi bawahan menjadi pejabat atau menduduki jabatan. Oleh karena itu, janganlah kita bersikap sombong dan takabur, janganlah kita bersikap semena-mena dalam memerintah. Barang siapa yang sombong, niscaya Allah akan membuatnya terhina.

Supaya kita dapat meraih hikmah maka perangi dan tundukkànlah serta hindari syahwat kekuasaan, dan akhirnya kita dalam memimpinnya tidak akan terbebaninya. Wallahu A’lam Bish-Shawabi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *