oleh

Hati Kita: Sucikan, Luruskan dan Pelihara

RASULULLAH Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Hati ini diciptakan dengan fitrah mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat buruk terhadapnya.” (HR. Baihaqi melalui Ibnu Mas’ud r.a.).

Hati manusia itu diciptakan oleh Allah dengan dibekali fitrah atau watak menyukai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat jahat terhadapnya. Salah seorang penyair mengatakan, “Sesungguhnya hati itu apabila rasa cintanya telah lenyap, sama halnya dengan kaca, yaitu bila telah pecah tidak dapat disatukan kembali.”

Hati adalah penghulu segala anggota dan pemimpinnya. Padanya, tersimpan semua asas akidah, akhlak, budi pekerti, niat yang baik dan niat yang buruk. Tidak ada kebahagiaan di dunia dan di akhirat, selagi hati belum disucikan dan dibersihkan dari sifat-sifat buruk yang tercela, dan segera menyemarakkan dan menghiasnya dengan sifat-sifat yang baik dan terpuji.

Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan) nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams, 91:7-10).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Ketahuilah, bahwa dalam tubuh itu ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh itu, dan jika ia rusak, maka rusak seluruh tubuh itu pula. Itulah hati”.

Allah Subhanahu Wata’alah telah berfirman, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. al-Isra’, 17:36)

Bahwa mengamati gerak-gerik hati dan seluruh anggota tubuh adalah hal penting yang harus diperhatikan oleh kita sebagai seorang Mu’min. Ia harus senantiasa mengawasi, memelihara dan menahan keduanya dari segala perbuatan yang dibenci dan dimurkai Allah Swt. seraya menganjurkannya untuk senantiasa melakukan perbuatan yang diridhai dan dikasihi-Nya.

Hati dan seluruh anggota tubuh merupakan nikmat-nikmat Allah yang utama bagi hamba-hamba-Nya. Barangsiapa menggunakannya untuk mentaati Allah, dan menyemarakannya dengan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kasih sayang-Nya, maka ia telah mensyukuri nikmat Allah swt., memelihara seluruh anggota tubuh dan meletakkan pengkhidmatannya pada tempat yang baik, yang karena itu seluruh anggota tubuh diciptakan dan dijadikan oleh Tuhan.

Barangsiapa membiarkan hati dan anggota tubuhnya melanggar larangan-larangan Allah Swt., mengabaikan dan menyia-nyiakan perintah-perintah-Nya, maka ia telah mengkufuri nikmat Allah pada anggota-anggota itu, dan karenanya ia akan menerima siksaan Allah Swt. Kelak di hari kiamat, seluruh anggota tubuh itu akan menjadi saksi di hadapan Allah atas segala maksiat yang dilakukannya di dunia.

Oleh karena itu, janganlah kita menjadi orang yang lahirnya saleh, namun hatinya tidak lebih dari makhluk buas yang rakus. Ketauhilah bahwa sesungguhnya Allah Swt. memasukan manusia ke dalam surga karena kelurusan niatnya dan kebersihan hatinya (husnus sarìrah).

Karena itu, kita wajib memperhatikan hati secara serius, pusatkanlah segala perhatian untuk memperbaiki dan meluruskannya. Karena, hati itu mudah sekali berubah-rubah dan senantiasa goncang. “Sesungguhnya hati itu lebih cepat bolak-baliknya dari makanan yang sedang menindih dalam periuk”. Juga Rasul bersabda lagi, “Sesungguhnya, hati itu terletak di antara dua jari dari jari-jari Tuhan. Apabila Dia suka, diluruskannya, dan jika Dia suka, dibengkokkannya.”. “Barangsiapa memperbaiki hati/batinnya maka Allah akan memperbaiki lahirnya.” “Barangsiapa yang batinnya lebih bagus daripada lahirnya, maka ringan timbangannya.” (Sahabat).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. tidak memandang postur tubuh kita dan tidak pula pada kedudukan maupun harta kekayaan kita, tetapi Allah memandang pada hati kita. Barangsiapa yang memiliki hati yang saleh maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertaqwa.” (HR. Athabrani & Muslim).

Dalam hadits yang senada beliau Saw. telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. tidaklah melihat kepada bentuk-bentuk kalian, dan tidak kepada kedudukan kalian, serta tidak pula kepada harta benda kalian, akan tetapi Dia melihat kepada kalbu kalian dan amal perbuatan kalian.” (HR. Thabrani).

Hadits ini menafsirkan pengertian yang terkandung dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah Swt. telah berfirman, “Bumi dan langit-Ku tidak dapat memuat-Ku, tetapi yang dapat memuat-Ku adalah hati hamba-Ku yang mukmin. Dan yang paling disukai oleh Allah di antara mereka (hamba-hamba-Nya yang mukmin) ialah mereka yang hatinya paling lunak dan paling lembut.

Sebagaimana dalam hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menyatakan, “Sesungguhnya Allah mempunyai wadah yang berada pada penduduk bumi, dan wadah Rabb kalian adalah kalbu hamba-hamba-Nya yang saleh, dan di antara mereka yang paling disukai-Nya adalah yang paling lemah lembut kalbunya.” (HR. Thabrani). “Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati).” (HR. Abu Yu’la).

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah ‘Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa do’amu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan do’a orang yang hatinya lalai dan lengah.” (HR. Ahmad).

Dalam hadis yang lain beliau Saw. bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong meskipun hanya sebesar biji sawi. Sebaliknya, tidak akan masuk neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman walaupun juga hanya sebesar biji sawi.” (HR. Abu Dawud). “Buta yang paling buruk ialah buta hati”. (HR. Asysyihaab). Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Karsidi Diningrat
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
* Anggota PB Al Washliyah di Jakarta.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *