oleh

Gagapnya Jurnalis Cetak ketika Banting Stir ke Online. Masa sih?

-Komunitas-99 views

ZAMAN cepat berubah gais. Siapa yang tak mampu beradaptasi maka siap-siap hengkang dari gelanggang. Agaknya itu juga yang terjadi di dunia jurnalism. Banyak – maaf – jurnalis yang gagal maning ketika tiba-tiba harus bermain di areal media online. Mereka terseok-seok ketika konvergensi media diterapkan. Newsroom menjadi barang baru yang harus dilakukan.

Diakui atau tidak perkembangan media online atau dotcom telah mengubah cara kerja di media arus utama. Padahal dalam perkembangan awalnya konvergensi media online baru terjadi di Indonesia pada 1995-1997 ketika sejumlah media cetak mulai berlaga di media online seperti Republika Online, Kompas.com, Tempointeraktif dan Media Indonesia.com.

Ketika itu masih hanya berupa copy dari versi cetak (shovelware). Lalu tidak dikembangkan sebagai unit bisnis, belum ada business model yang dirancang menghasilkan keuntungan dan lebih digunakan sebagai simbol prestise atau up to date.

Baru kemudian pada 1998-2003 dotcom booming. Saat itu baru ada Detik.com, Satunet.com dan Astaga.com. Di era ini dotcom benar-benar meraja. Persaingan menjadi ketat. Dotcom dianggap sebagai unit business untuk mendulang rupiah demi rupiah. Lalu model business menjadi andalan dan didominasi media non mainstream cetak.

Baru pada 2004 dan seterusnya bermunculan dotcom-dotcom lainnya. Ibarat jamur di musim hujan. Muncul Vivanews, Liputan6.com. Bejibun pokoknya. Belum dotcom yang kontennya lebih spesifik misalnya berita-berita sepak bola. Wah banyak deh! Di era ini, media mainstream mulai serius mengembangkan konvergensi, persaingan kian ketat, unit bisnis sejajar dengan cetak, model business bervariasi dan mulai berlaku kepemilikan silang.

Dotcom mulai menjadi mesin uang bagi pengelola media. Masalahnya sekarang bagaimana proses jurnalis cetak beralih ke media online? Apa tantangan jurnalistik cetak ketika bermain di dotcom?

Tidak semudah membalikan telapak tangan. Senior saya Bang Isson Khairul mengambil contoh bagaimana tergagapnya jurnalis The New York Time ketika dipaksa bermain pada media dotcom.

Apa yang dikatakan senior saya itu memang benar. Tak mudah bagi teman-teman yang selama ini berlaga di medan pertempuran cetak banting stir ke media online. Masalahnya bukan soal tulis-menulis tetapi banyak karakteristik media online yang sangat berbeda dengan media cetak. Media cetak dibatasi dengan deadline kecuali ada breaking news. Deadline bisa diundur.

Kondisi itu berbeda dengan media online. Di media yang satu ini tak ada istilah deadline. Penyajian berita realtimes. Selalu berputar tiada henti. Di cetak, jurnalis bisa ngasoh usai deadline. Sesuatu yang tak mungkin di media online. Berita harus terus dikembangkan sampai tuntas.

Pengalaman saya di Sinar Harapan mengaminkan itu. Banyak jurnalis yang protes karena mereka merasa jurnalis cetak yang notebene hanya mengisi koran bukan online. Mereka menganggap ada beban tambahan ketika juga harus mengisi online selepas deadline cetak.

Ini persoalan yang mudah dicarikan solusinya tetapi harus diatasi. Mereka bahkan minta tim online khusus yang mengerjakan dotcom. Sesuatu yang pasti dianggap manajemen sebagai pemborosan dari sisi budget. Sudah ongkos cetak mahal ditambah lagi ada penambahan biaya.

Bisa jadi persoalan ini juga muncul pada media cetak lainnya ketika konvergensi dan newsroom diperkenalkan. Kondisi inilah yang kemudian terjadi pemisahan antara awak cetak dengan online bahkan badan hukum mereka juga berbeda. Ini langkah untuk mengakhiri konflik berkepanjangan.

Ada pula yang akhirnya membuat dotcom baru dengan lebih memulai dengan edisi e-paper. Kompas salah satunya dengan apa yang dinamakan Kompas.id. Berbeda dengan Kompascom. Indepth ditambah visual dimainkan di situ sehingga menjadi sajian menarik bagi pembaca.

Ya mirip-mirip Tirto.id punya senior saya Mas Sapto. Ya zaman memang telah berubah. Dan hanya yang mampu mengatasi masalah itu keluar menjadi pemenang. Ayo siapa yang siap menjadi the winners atau hanya menjadi penonton belaka: duduk manis di luar gelanggang?(norman meoko)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *