oleh

Agama Islam Akan Diperkuat Oleh Laki-laki Fasik

ALLAH subhanahu wataala telah berfirman, “Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qasas, 28: 56).

Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. akan memperkuat agama ini (agama Islam) dengan laki-laki yang fajir (fasik).” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah r.a.).

Hadits ini merupakan berita tentang hal-hal yang akan terjadi di kalangan umat Nabi Saw. sesudah ia tiada. Beritanya itu pasti terjadi karena apa yang diucapkannya tiada lain bersumber dari wahyu yang diturunkan kepadanya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Kalian akan menjumpai manusia bagaikan benda-benda logam yaitu, orang-orang terpilih di zaman jahiliyah terpilih pula di zaman Islam, apabila mereka masuk Islam. Dan kalian akan menjumpai sebaik-baik manusia yaitu orang yang paling benci terhadap Islam, sebelum mereka masuk Islam, tetapi setelah masuk Islam ia patuh dan taat terhadap Islam. Dan kalian akan menjumpai seburuk-buruk manusia kelak di hari kiamat di sisi Allah adalah orang yang bermuka dua, yaitu orang yang mendatangi suatu golongan dengan satu muka, dan kepada golongan lainnya dengan muka yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Manusia itu sama halnya dengan barang tambang, dengan pengertian bahwa mereka yang terhormat di zaman Jahiliyahnya akan menjadi terhormat pula dalam zaman Islam, tetapi dengan syarat bila mereka memahami agama Islam. Yang paling baik di antara mereka (orang-orang Jahiliyah yang telah masuk Islam) ialah orang-orang yang paling membenci masa Jahiliyahnya. Dan manusia paling buruk ialah mereka yang bermuka dua (munafik); bila bersua dengan orang-orang mukmin, mereka mengaku mukmin; dan bila berkumpul dengan teman-temannya yang kafir, mereka menampakkan keasliannya.

Dalam hal ini Allah Swt. berfirman, “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS. An Nisa: 143).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia membuatnya memahami agama dan membuatnya berzuhud terhadap duniawi, lalu Dia memperlihatkan kepada aib-aib dirinya.” (HR. Baihaqi melalui Anas r.a.).

Bilamana Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, niscaya Allah memberinya petunjuk untuk dapat memahami agama karena agama akan membawanya kepada kebaikan di dunia dan akhirat. Dan niscaya Allah menjadikannya sebagai orang yang berzuhud terhadap duniawi karena dunia itu pasti lenyap, sedangkan pahala amal saleh tetap kekal di sisi-Nya. Hal ini tidaklah heran mengingat pemahaman agamanya yang mendalam sehingga harta duniawi menurut pandangannya tiada artinya dibandingkan dengan pahala ukhrawi.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia membukakan baginya kunci hatinya, dan Dia menjadikan di dalamnya keyakinan dan kejujuran. Dia menjadikan kalbunya selalu menyadari apa yang ia tempuh, dan Dia menjadikan kalbunya selamat, lisannya jujur, akhlaknya lurus, dan Dia menjadikan telinganya berpendengaran tajam, dan matanya berpenglihatan tajam.” (HR. asy-Syaikh melalui Abu Dzarr r.a.).

Hadits ini mempunyai makna yang berkaitan dengan hadits di atas yang menyatakan bahwa apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia membuatnya memahami agama, berzuhud terhadap duniawi, dan Dia memperlihatkan kepadanya aib-aib dirinya.

Dalam hadits ini dinyatakan bahwa bilamana Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Dia membukakan kunci hatinya, hingga yang bersangkutan dapat memahami agama dengan pengertian yang mendalam. Setelah itu di dalam kalbunya akan tertanam keyakinan yang mantap dan kepercayaan yang teguh sehingga ia dapat mengetahui bahwa hidupnya di dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan yang abadi adalah di akhirat.

Bilamana sudah sampai kepada tingkatan ini maka hatinya menjadi selamat (bersih) dan tidak dikeruhi oleh noda-noda dosa; lisannya jujur; akhlaknya lurus; telinganya mau mendengar petunjuk dan hidayah; dan pandangan matanya tajam terhadap hal-hal yang mengandung manfaat di dunia dan akhirat, lalu ia segera mengerjakannya, serta tajam terhadap hal-hal yang mengandung mudarat (bahaya) di dunia dan di akhirat, lalu ia segera meninggalkannya.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sedikit memperoleh taufik (kesuksesan dalam beragama) adalah lebih baik daripada banyak akal (pandai). Pandai dalam masalah duniawi menyusahkan, sedangkan pandai dalam masalah agama membahagiakan.” (HR. Imam Ibnu ‘Asakir).

Sedikit mendapat taufik lebih baik daripada banyak akal (pandai). Karena kepandaian dalam perkara dunia menyusahkan orang yang bersangkutan. Sedangkan kepandaian dalam masalah agama membahagiakan.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Barang siapa dikehendaki baik oleh Allah, niscaya Dia menjadikannya memahami masalah agama.” (HR. Mu’awiyah).

Allah subhanahu wa taala telah berfirman, “Wahai orang-orang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah, 2:208)

Juga dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, “Wahai orang-orang beriman! Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Al-Imran, 3:102).

Contoh-contoh orang yang dulunya membenci Islam kemudian membelanya dengan sungguh-sungguh setelah masuk Islam yaitu: Ustadz Mathuis, mantan Pendeta; Ustadz Yudi Mulyana, Ustadz Ustadz Felix Siauw. Ustadz Yahya Waloni mantan Pendeta; Syaikh Hussain Yee; H. Muhammad Yusuf Hamka; Ustadz Gusti Rahman atau Kristian Natalis, mantan Pendeta; Ustadz Abraham Agus Setiono, mantan Pendeta; Ustadz Steven Indra Wibowo; Ustadz Ahmad Kainama; Bernald Abdul Jabar; Steven Indra Wibowo; Agustinus Wibowo; Insan Latif Saukani; Syamsul Arifin Nababan, mempunyai pesantren Muallaf; Hanni Kristiantono; Prof. Arief Budiman; juga ada dari kalangan wanita seperti Hj. Irene Handono; Dra.Hj. Dewi Purnamawati; Hj. Ita Meiga Fitri, SH. MH; dll. Mereka ini membela agama Islam dengan berdakwah dan kemampuan dalam pemahaman ajaran Agama Islam di atas rata-rata dan juga tidak saja jiwanya untuk menegakkan kalimat Allah, tapi juga hartanya untuk membela agama Islam.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Peliharalah kehormatan kalian dengan harta kalian, dan hendaknya seseorang di antara kalian membela agamanya melalui lisannya dengan cara yang baik.” (HR. Imam Ibnu ‘Asakir).

Peliharalah kehormatan kita dengan harta kita. Atau dengan kata lain, perbanyaklah berbuat kebajikan dengan harta kita karena sesungguhnya perbuatan yang bajik itu dapat menolak kejahatan. Barang siapa yang bersifat dermawan, maka kita akan dicintai oleh manusia dan jauh dari kejahatan orang lain. Lafadz Wal yushaani, berasal dari kata Mushana’ah, artinya berdiplomasi. Berdiplomasilah kita melalui lisan kita demi membela agama kita. Semoga.

Karsidi Diningrat

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
* Anggota PB Al Washliyah.
* Penasehat PW Al Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *