oleh

Sistem Digitalisasi Suatu Keniscayan yang Harus Dimiliki Perguruan Tinggi

-Kampus-187 views

POSKOTA.CO – Sejumlah perguruan tinggi mulai memetakan kesiapan mahasiswa terutama mahasiswa baru untuk mengikuti kuliah daring mulai tahun ajaran 2020/2021 pada September-Oktober mendatang. Sejumlah solusi disiapkan untuk membantu mahasiswa yang terkendala kuliah daring.

Menurut ML Denny Tewu, saat ini pada umumnya, kuliah daring di perkotaan bukanlah menjadi masalah besar, namun bagi mahasiswa yang tinggal di pedesaan yang tidak memiliki sinyal yang baik tentunya kesulitan akses di mana kampus juga pada umumnya hanya melakukan kuliah daring selama semester ganjil ke depan

“Jadi mahasiswa harus mencari lokasi yang ada sinyal internet beserta kesiapan pulsanya,” jelas Wakil Rektor II Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, Minggu (16/8/2020).

Kuota internet pun menjadi kendala utama mahasiswa di sebagian besar perguruan tinggi swasta untuk mengikuti kuliah daring. Bantuan kuota internet perlu diberikan kepada mahasiswa agar dapat mengikuti kuliah daring.

Kata Danny, hingga saat ini masalah pulsa internet serta kecepatannya tetap menjadi kendala mahasiswa di dalam mengikuti perkuliahan secara online, untuk itu pemerintah harus membantu mencarikan solusi tanpa juga memberatkan perguruan tinggi swasta tersebut. Sementara perguruan tinggi juga tentu harus mempersiapkan Learning Management Sistem (LMS) yang ‘integrated’ mulai dari penerimaan mahasiswa baru, ujian saringan masuk, serta pembayaran dan perkuliahan hingga absensi secara daring dan sebagainya.

“Perguruan tinggi yang tidak siap dengan sistem akademik tentu akan kesulitan merekrut mahasiswa baru dan proses belajar daring,” tandas S3 Manajemen Bisnis Unpad Bandung ini.

Kini bukan hanya mahasiswa yang gelisah mengikuti kuliah daring, melainkan juga dosen yang harus membuat presentasi bagus dengan cara cara penyampaian yang menarik.

Dijelakan Denny Tewu yang Advanced Leadership Training, Haggai Institute, Maui Hawai AS ini, sebenarnya berbagai tawaran teknologi sudah cukup banyak untuk menyediakan berbagai cara melakukan presentasi secara daring, lengkap dengan contoh-contohnya secara detail di YouTube dan sebagainya. Hanya saja, kata Denny, kembali kepada dosen-dosen yang bersangkutan, apakah mau berubah mengikuti perkembangan zaman digital, ataukah status quo karena sudah malas tidak mau mengikutinya dengan berbagai alasan, termasuk peralatan (devices) yang dianggap masih mahal.

“Untuk itu perguruan tinggi perlu memfasilitasi dosen-dosen tersebut agar diberikan workshop maupun training-traning tambahan mengenai ‘devices’ maupun cara-cara melakukan pembelajaran daring. Prinsipnya, semua harus pahami bahwa proses digital dibuat untuk memudahkan manusia bekerja dengan lebih efisien, jangan berpikir sebaliknya,” kata Risk Management of Insurance Company (RMIC) By BNSP ini.

Denny Tewu berharap, mahasiswa baru memiliki keyakinan bahwa kuliah daring adalah tuntutan zaman dan situasi yang mau tidak mau harus diikuti, sementara untuk perguruan tinggi sistem digitalisasi adalah suatu keniscayaan yang harus dimiliki, serta para dosen harus dan wajib memperlengkapi diri dengan berbagai sistem yang sudah diterapkan di perguruan tingginya.

“Bagi pemerintah perlu menegaskan kepada para provider, selain terus memperluas jaringan internet dengan kecepatan yang stabil di seluruh Indonesia, juga memberikan harga khusus untuk siswa-siswi ataupun mahasiswa-mahasiswi dan para guru maupun dosen, misalnya dengan menunjukkan ID card mahasiswa/dosen mendapatkan potongan harga 50 persen,” pungkasnya. (lian tambun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *