oleh

Tiga Tahun Beraksi, 11 Sindikat Pemalsu Sertifikat Laut Diringkus

POSKOTA.CO – Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya menangkap 11 tersangka sindikat pemalsuan sertifikat keterampilan pelaut dengan melakukan illegal access (hacking) pada website resmi Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana mengatakan, sindikat pemalsu Sertifikat Pelaut ini telah beroperasi selama tiga tahun dari sejak 2018 hingga April 2020. 11 pelaku berinisial DT, IJ, JA, SP, SH, ST, IS, GJM, RR, RAS dan RA. Mereka ditangkap di wilayah Jakarta Utara, Riau dan Bogor.

“Sertifikat yang dipalsukan sejumlah 5.041 lembar, dengan meraup keuntungan Rp20 miliar,” ujar Nana di Polda Metro Jaya, Kamis (25/6/2020).

Menurut Kapolda, modus operandi sindikat ini adalah menawarkan jasa pembuatan sertifikat keterampilan pelaut palsu kepada para pengguna untuk kerja di kapal dengan memberikan jaminan bahwa blangko sertifikat asli buatan Peruri, serta nomor sertifikat keterampilan pelaut teregistrasi dan terintegrasi secara online di website Kementerian Perhubungan.

“Harga yang ditawarkan untuk pembuatan sertifikat aspal dari mulai Rp700.000 sampai Rp20.000.000, tergantung sertifikat yang dibutuhkan,” katanya.

Kronologis pada Kamis 23 April 2020, Unit Resmob Polrestro Jakut mendapat informasi dari masyarakat, bahwa di wilayah Koja ada seseorang bernama DT yang dapat membuat sertifikat keterampilan pelaut asli tapi palsu.

Tim Berhasil menangkap tiga orang tersangka, atas nama DT bersama-sama dengan tersangka IJ dan JA di Wilayah Koja.

“Dari hasil interogasi terhadap para tersangka yang telah diamankan, tim berhasil menangkap para pelaku lainnya sebanyak enam orang yaitu SP, SH, ST, IS, GJM dan RR,” papar Kapolda.

Dari hasil penyelidikan Tim Satgas Gabungan berhasil menangkap kembali dua orang tersangka RAS di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Selasa (12/5/2020), dan RA di Bogor pada Selasa (9/6/2020).

“Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 264 KUHP (Pemalsuan Surat) dan Pasal 30 ayat (3) UU ITE (cracking, hacking, illegal access),” pungkas Kapolda. (*/rel)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *