oleh

Sidang Perkara OTT Mantan Sekdis PKPP Kabupaten Bogor Memasuki Tahap Keterangan Saksi

POSKOTA. CO – Sidang perkara Iryanto, mantan Sekretaris Dinas Pemukiman Kawasan Perumahan dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor, memasuki keterangan saksi.

Iryanto berurusan dengan hukum, setelah terjaring operasi tangkap tangan (OTT) aparat Polres Bogor pada tanggal 3 Maret 2020 lalu.

Dalam sidang yang mendengarkan keterangan saksi di pengadilan terungkap, jika penyuap terdakwa Iryanto adalah Sony Priyadi yang saat kejadian, berstatus sebagai tahanan di Lapas Pondok Rajeq Cibinong, Bogor dalam kasus yang berbeda.

Munculnya nama Sony menimbulkan kejanggalan dan pertanyaan. Pasalnya, saat kejadian berlangsung yakni pada tanggal 3 Maret 2020 lalu, Sony sudah berada dalam tahanan.
Mengapa seorang tahanan bisa keluar sel dan menyerahkan uang suap kepada pejabat negara di kantornya. Inilah yang masih di kejar Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sejumlah wartawan mengkonfirmasi kebenaran fakta persidangan ini ke Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Pondok Rajeg Cibonong, Bogor, Ardian Nova Christiawan.

Dari data yang didapat, Sony masuk Lapas Pondok Rajeq tanggal 6 Maret 2020 atau tiga hari OTT dugaan kasus suap berlangsung.

“Pak Sony berdasarkan data base kami, masuk lapas tanggal 6 Maret. Jadi sejak 6 Maret itu baru masuk lapasnya,” kata Ardian Selasa (8/9/2020).

Sidang kasus OTT dengan terdakwa Iryanto di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung menghadirkan saksi pelapor dari Polres Bogor yang juga penyidik, Beny Syuhada.

Dalam kesaksiannya Beny menyatakan, sebelum OTT dilakukan, dia sempat berbincang dengan dua tersangka kasus pidana umum berupa penggelapan dokumen dan mendapati keterangan terkait pengurusan izin RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua.

“Saya berbincang dengan Fikry Salim pada tanggal 29 Februari 2020 dan mendapati keterangan bahwa dia sedang mengurus izin di DPKPP yang tidak selesai. Padahal sudah menyetorkan uang sejumlah Rp200 juta. Keterangan Fikry juga diperkuat tersangka lainnya, Sony Priyadi pada tanggal 2 Maret 2020 dan ada keterangan bahwa diduga aliran dana itu masuk ke terdakwa sehingga sebagai anggota Polri yang mengetahui adanya dugaan kasus hukum maka saya buatkan laporan informasi (LI) yang langsung saya setorkan kepada atasan,” kata Beny dalam kesaksiannya di pengadilan.

Terkait proses OTT, Beny mengakui tidak tahu siapa target dan kapan OTT akan dilakukan. Beny mengaku dihadapan majelis, jika pada tanggal 3 Maret 2020, dia dihubungi untuk ikut serta dalam operasi tersebut di kantor DPKPP, namun ia tidak tahu siapa target OTT.

“Kalau targetnya siapa dan kapan waktu operasinya saya tidak tahu. Saya hanya sekedar melaporkan saja dan yang memprosesnya atasan saya. Saya dihubungi untuk ikut dalam OTT itu ternyata di kantor DPKPP bersama tim dari Polres Bogor yang dipimpin AKP Benny Cahyadi yang saat itu bertugas sebagai Kasat Reskrim Polres Bogor,” kata Beny yang statusnya dalam persidangan ini adalah sebagai saksi pelapor.

Sementara Rama, saksi kedua yang juga anggota Polri unit 1 Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor. Rama menjadi salah satu tim OTT Iryanto.

Rama dalam kesaksiannya juga mengaku tidak tahu siapa target OTT di DPKPP. Kemudian dalam fakta persidangan, terungkap peranan saksi bertugas mengamankan orang-orang yang diduga melakukan peranan dalam transaksi dugaan suap, yaitu Sony Priadi sebagai pemberi dan juga mengamankan sejumlah dokumen terkait rekomendasi izin RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Cibinong, Kabupaten Bogor, Yusie melayangkan pertanyaan, apa peranan saksi Rama dalam OTT yang dilakukan Polres Bogor pada 3 Maret 2020 lalu.

“Saya diberitahukan oleh pimpinan, dalam hal ini Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Benny Cahyadi bahwa ada giat OTT di DPKPP dengan tugas mengamankan semua pihak yang terkait sesuai arahan kasat. Salah satunya saya mengamankan Sony Priyadi. Setelah saya masuk ke ruangan terdakwa, saya melihat bukti-bukti seperti uang pecahan Rp100 ribu 5 ikat dan tas hitam berisi uang Rp70 juta yang setelah operasi diketahui bahwa itu uang pribadi terdakwa dari hasil piutang yang dibayar,”jawab Rama saat ditanya JPU.

Rama juga mengaku, dirinya bersama Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Benny Cahyadi dan beberapa anggota lainnya masuk ke ruangan Jackson Boy yang merupakan salah satu kasie di DPKPP di lantai yang sama dengan ruangan terdakwa untuk mengambil dokumen terkait RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua.

“Setelah mengamankan Sony Priyadi dan menyerahkan kepada anggota polisi lain, saya kembali ke ruangan terdakwa dan diperintahkan oleh kasat untuk ikut serta melakukan pencarian dokumen terkait izin RS Cibungbulang dan Hotel Cisarua di ruangan Jackson Boy bersama kasat dan beberapa anggota lainya. Di ruangan tersebut kita dapatkan dokumen itu. Kita amankan sebagai barang bukti,”ujar Rama. (yopi/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *