oleh

Preman Kampung Keroyok Polisi yang Menegur karena Mabuk-mabukan

POSKOTA.CO – Iwan Handayana, anggota Polri berpangkat Brigadir dikeroyok sejumlah preman hingga bonyok di Kampung Kerenceng, Desa Bojong Malaka, Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pelaku tersinggung karena ditegur dan diminta bubar ketika sedang menggelar pesta minuman keras di area kuburan.

Delapan pelaku diantaranya masih di bawah umur kini diamankan pihak kepolisian untuk proses hukum. Tiga orang telah resmi ditetapkan sebagai tersangka, dua dewasa dan satu di bawah umur. “Korbannya, satu anggota polisi dan satu petugas desa,” kata Kapolresta Bandung Kombes Hendra Kurniawan, Senin (27/7).

Aksi pengeroyokan yang menimpa Brigadir Iwan terjadi pada Sabtu (25/7) sekitar pukul 23.OO WIB. Korban yang bertugas sebagai Babinkamtibmas mendapatkan laporan dari masyarakat yang merasa resah karena ada sejumlah pemuda menggelar pesta minuman keras di area pekuburan Desa Bojong Malaka.

Warga sekitar lokasi khawatir dengan para pemuda itu, karena takut terjadi keributan dan kejahatan lainnya. Brigadir Iwan ditemani seorang petugas desa mendatangi lokasi.

Dari kejauhan sekitar 50 meter terdengar suara ribut ribut yang cukup meresahkan warga sekitar. Menurut Kombes Hendra, kedatangan Brigadir Iwan dan petugas desa disambut secara kasar dan mengeroyok kedua korban hingga babak belur.

Brigadir Iwan mengalami luka lebam di wajah dan luka robek di pelipis dan mata. Babinkamtibmas dan petugas desa itu berhasil diselamatkan warga setempat dari aksi brutal para pelaku.

Setelah mendapat laporan dari korban Brigadir Iwan, sejumlah anggota polisi diterjunkan ke lokasi dan mengamankan delapan orang pelaku di lokasi. Hasil pemeriksaan, tiga orang diantara pelaku ditetapkan sebagai tersangka.

Polisi masih mendalami aksi brutal para pelaku yang diduga sering membuat onas sekitar lokasi. Buntutnya, polisi juga melakukan penertiban terhadap sejumlah toko menjual minuman keras sekitar lokasi.

Ketiga tersangka dijerat Pasal yang disangkakan di antaranya Pasal 170 dan Pasal 212 KUHP denagan ancaman hukuman maksimum 9 tahun penjara. Kata Kombes Hendra lagi, tidak tertutup kemungkinan tersangka akan bertambah.Omi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *