oleh

Dua Terdakwa Penyiram Air Keras Novel Baswedan Divonis 1,6 dan 2 Tahun Penjara

POSKOTA.CO – Dua terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan divonis Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara dua tahun dan 1,5 tahun penjara.

Kedua terdakwa divonis dengan hukuman penjara yang berbeda. Untuk terdakwa Rahmat Kadir Mahulette divonis 2 tahun penjara.

Sementara, terdakwa Ronny Bugis divonis hukuman 1 tahun 6 bulan penjara.

“Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa tersebut selama 2 tahun,” kata Ketua Majelis Hakim Djuyamto membacakan amar putusan terhadap  Rahmad Kadir di PN Jakarta Utara, Kamis (16/7)

Majelis hakim terdiri dari hakim ketua Djuyamto serta dua hakim anggota, Taufan Mandala, Agus Darwanta.

Majelis hakim menilai Rahmat terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penganiayaan terencana kepada Novel. Dalam melakukan perbuatannya Rahmat dibantu Ronny Bugis yang mengendarai sepeda motor.

Vonis dibacakan dalam sidang yang digelar secara virtual. Hanya majelis hakim dan tim Jaksa Penuntut Umum serta tim Penasihat Hukum yang hadir di ruang sidang. Sedangkan para terdakwa hanya dihadirkan secara virtual.

Rahmat selaku penyiram air keras terbukti melanggar Pasal 353 ayat (2) KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara untuk Ronny Bugis, hakim menjatuhkan vonis 1 tahun 6 bulan penjara. Ronny dianggap terbukti secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan penganiayaan terencana.

Dalam perkara sidang Novel menjadi perhatian banyak publik dikarenakan pada sidang sebelumnya jaksa menuntut kedua terdakwa satu tahun hukuman penjara.

Pasal Primer yakni Pasal 355 ayat 1 KUHP jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP yang didakwakan dianggap JPU tak terbukti karena berdasarkan fakta persidangan kedua terdakwa tidak sengaja menyiram air keras ke kepala Novel.

“Terdakwa hanya akan memberikan pelajaran kepada saksi Novel Baswedan dengan melakukan penyiraman air keras ke Novel Baswedan. Tapi, di luar dugaan, ternyata mengenai mata Novel Baswedan yang menyebabkan mata kanan tidak berfungsi dan mata kiri hanya berfungsi 50 persen saja, artinya cacat permanen sehingga unsur dakwaan primer tidak terpenuhi,” kata Jaksa dalam sidang sebelumnya.

Namun kedua terdakwa dituntut atas Pasal subsidair Pasal 353 ayat 2 KUHP jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP tentang penganiayaan berat yang direncanakan terlebih dahulu.

Yang memberatkan terdakwa dalam kasus ini adalah dianggap mencoreng nama baik Polri sebab terdakwa merupakan anggota polisi aktif.

Adapun hal yang meringankan terdakwa Rahmat, menurut JPU, yakni belum pernah dihukum. Terdakwa pun mengakui perbuatannya di hadapan persidangan, kooperatif dalam persidangan, dan telah mengabdi sebagai polisi selama 10 tahun. (d)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *