harmono 07/09/2019

POSKOTA.CO – Setiap terjadi peristiwa kejahatan yang menarik perhatian publik, biasanya istilah ‘forensik’ sering muncul bak wanita anggun yang begitu mempesona sehingga setiap orang tertarik untuk mengenalnya.

Contoh terakhir yang banyak diingat publik adalah dalam menguak tabir meninggalnya seorang korban karena meminum kopi di sebuah kafe di Jakarta. Sungguh sebuah peristiwa yang menyedot perhatian publik, karena proses peradilan yang diliput secara terbuka sehingga setiap pemirsa bisa mengikuti setiap alur cerita dengan argumen-argumen forensiknya.

Untuk mengetahui masalah ini lebih dalam, di sini disajikan hasil perbincangan dengan Pimpinan Rumah Para Pecinta Ilmu (Rumppi) yang juga Komisioner Kompolnas RI Dede Farhan Aulawi yang selama ini dikenal sangat terbuka dengan media serta tidak pelit dalam berbagi ilmu.

Menurut Dede, kata ‘forensik’ berasal dari kata Latin, ‘forenses’ yang berarti forum. Dahulu di zaman Romawi, sebuah forum merujuk ke tempat umum di mana proses peradilan dan perdebatan diadakan.

“Jadi asal-usul dan definisi ‘ilmu forensik’ menunjuk pada hubungannya yang erat dengan sistem hukum. Ilmu forensik melibatkan pengumpulan, pelestarian, dan analisis bukti yang sesuai untuk menuntut seorang pelaku di pengadilan,” jelasnya.

Sistem hukum secara luas mengakui, lanjut Dede, peran bukti forensik dalam persidangan pelaku kejahatan. Ini karena ketika teknik dan metode ilmiah digunakan, tidak ada banyak ruang untuk bias atau ketidakadilan. “Itulah mengapa profil DNA dan sejumlah bukti forensik lainnya diterima secara luas di pengadilan di seluruh dunia,” ucap Dede.

Dede menambahkan, bukti forensik digunakan secara luas di seluruh dunia untuk menghukum atau membebaskan terdakwa. Untuk itulah laboratorium sains forensik telah menjamur di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir.

“Bahkan tindakan khusus telah diberlakukan di AS, Kanada, dan Australia untuk meningkatkan rendering layanan forensik. Ini akan memastikan bahwa kejahatan terdeteksi dengan kepastian yang lebih besar dan akibatnya tingkat hukuman dapat meningkat. Tindakan semacam itu sangat menekankan pada manajemen tempat kejadian perkara (TKP) yang efisien dan berkualitas. Namun karena fasilitas laboratorium forensik milik pemerintah seringkali jumlahnya terbatas, maka melahirkan beberapa labortorium forensik swasta,” tuturnya.

Diterangkan, Yayasan Forensik Incognito (Lab IFF) merupakan laboratorium forensik swasta yang berbasis di Chennai dan Bangalore, India. Ini telah muncul sebagai pelopor meskipun sangat baru dalam domain forensik. Dengan keahlian dalam investigasi kriminal, siber dan forensik digital menjadikan IFF sebagai laboratorium strategis yang dirasakan sangat membantu oleh pemerintah India. Kejahatan dunia maya dan pusat forensik digital mereka menawarkan solusi yang melayani berbagai segmen masyarakat seperti lembaga penegak hukum, penyelidik swasta, individu, korporasi dan pemerintah.

“IFF Lab juga melayani individu yang ragu-ragu yang ingin menyelesaikan perselisihan keluarga tetapi tidak mau berurusan dengan aparat penegak hukum. Karenanya IFF Lab sangat membantu perusahaan dan individu yang ingin menjaga kerahasiaan masalah yang dipersengketakan. Kasus-kasus seperti itu melibatkan dokumen penipuan, pencurian identitas, penipuan perusahaan, perselisihan keluarga, kejahatan dunia maya, penipuan dan lain-lain,” ungkap Dede mengakhir penjelasan mengenai forensik. (*/oko)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*