harmono 20/08/2017

 

Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

LALU LINTAS sebagai urat nadi kehidupan, maka lalu lintas yang ideal adalah adanya: keamanan, keselamatan, ketertertiban dan kelancaran. Tatkala lalu lintas terjadi kesemrawutan, kemacetan bahkan kecelakaan maka diperlukan adanya manajemen lalu lintas. Mengupas manajemen tentu membahas pekerjaan di dalam institusi maupun di dalam masyarakat itu sendiri. Memanaj lalu lintas diperlukan adanya:

  1. Model dan pola penanganan touble spot dan black spot secara virtual maupun aktual. Dalam model virtual tentu ada back officeaplication dan network-nya yang digunakan untuk menghubungkan/meng-online-kan secara elektronik. Maknaya diperlukan adanya sistem pemetaan baik untuk wilayah, permasalahan maupun potensi-potensinya. Di sinilah perlunya sistem peta digital untuk menjadi acuan pedoman informasi komunikasi dan solusi. Aplikasi-apikasi untuk mengendalikan pengguna jalan dan kendaraam akan menjadi sangat penting agar ada kemampuan mengawasi dan mengendalikan bahkan menegakkan hukum bila melanggar. Konsep aplikasi ini yang boleh dinamakan atau dipahami sebagai ERI (Electronic Registration and Identification). Program-program catatan perilaku berlalu lintas (traffic attitilude record) maupun de merit point system. Di sinilah program e-Tilang akan dapat diimplementasikan dengan cepat, tepat, akurat, transparan akuntabel, informatif dan mudah mengaksesnya. Selain itu juga dapat digunakan untuk program ERP (Electronic Road Pricing); ETC (Elevtronic Toll Collecting); e-Parking, e- Samsat; e-Banking dan program-program elektronik lainya. Ini semua akan digerakkan dan dikendalikan secara informatif, komunikatif dan solutif melalui Intan (intellegence traffic analysis system) dan terpusat pada NTMC (National Traffic Management Center).
  2. Program-program penjagaan dan pengaturan pada jam-jam tertentu dalam skala prioritas yang dihitung dari tingkat kepadatan arus (traffic account). Dan penyiapan jalur-jaur alternatif sebagai solusi maupun penanganan secara berkala buka tutup sehungga dapat diprediksi dan ada solusi seperti contra flow dan sebagainya.
  3. Penyediaan kantong-kantong parkir dan sistem interchange antarmoda transportasi angkutan umum yang representatif (aman, nyaman, tepat waktu, selamat sampai tujuan).
  4. Political will memihak pada sistem-sistem modernisasi manajemen lalu lintas.
  5. Membangun tim transformasi sebagai tim manajemen dan tim kendali mutu sebagai wadah representatif yang merupakan soft power bagi kebijakan-kebijakan publik.

Pengambilan keputusan manajemen lalu lintas dengan cara mengatur ganjil-genap selain terlalu sederhana cara berpikirnya tentu bukan solusi tepat yang diterima semua pihak. Ganjil-genap boleh dikatakan penyelesaian masalah dengan masalah baru. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :