harmono 22/05/2016

KAPOLSEKPOSKOTA.CO – Polisi sederhana nan jujur itu memang ‘keras kepala’. Dalam bekerja, saat mengungkap kasus, ia tak pernah sekalipun mau diatur, apalagi untuk ‘main mata’.

Siapa dia ? Anda pasti tahu…apalagi para polisi, mulai dari prajurit biasa, perwira tinggi, hingga Kapolri tahu….Jenderal itu bernama Hoegeng Imam Santoso.

Tercatat, karir Hoegeng mencapai klimaksnya pada tahun 1960. Sukses membongkar aksi penyelundupan mobil mewah yang dilakukan adalah seorang taipan, Robby Tjahyadi (1960), Hoegeng pun berbuah pahit. Bukan pujian yg diperoleh, tapi ia pun dipecat dari jabatan Kapolri.

Catatan tentang seorang Hoegeng memang penuh ironi. Presiden Soeharto yg kala itu berupaya bermain cantik, mencoba membujuk Hoegeng dengan menawarkan posisi menjadi diplomat.

Tapi sekali lagi, polisi ‘keras kepala’ itu menolak. Alasannya, seorang diplomat harus bisa coktail, sementara dia seorang abdi hukum semata.

Begitulah Hoegeng, Ia tak perlu jabatan, kalau disuruh melawan nurani sendiri. Ia lebih memilih hanyut dialunan musik Hawaiaan dari pada bersekutu dengan ketidak adilan.

Dan Anda tahu ? Hoegeng juga tak butuh kehormatan, diakhir hayatnya, ia bahkan menolak Taman Makam pahlawan. Hoegeng memilih dimakamkan di Taman Pemakaman umum Giri Tama, disudut kota Bogor.

Hoegeng telah membuktikan, polisi yg baik, jujur dan ‘keras kepala’ tidak mendapat tempat di negara ini. Bahkan, mungkin sampai saat ini pun, polisi baik itu masih tersingkirkan. Masih acap terlihat secara kasat mata, pucuk pimpinan Polri bahkan presiden masih bertindak mirip Soeharto pada jamannya.

Perwira ya tak disukai pimpinan masih rawan kena tendang. Bahkan yang paling gawat, pintu kesempatan pun tertutup rapat bagi perwira-perwira yang bukan ‘orangnya’ penguasa. Belum ada keadilan untuk semua.

Alhasil, nama-nama yang muncul untuk mengisi jabatan strategis dilingkungan Polri, selama ini cenderung tergantung selera dan mungkin berdasarkan kepentingan subjektif.

Saat ini, drama perebutan kursi Kabareskrim Polri sedang berlangsung. Dan semoga saja..ada terobosan baru. Kapolri dan Wanjakti tidak mengedepankan selera pribadi dan kepentingan subjektif.

Tapi benar-benar berdasarkan objektifitas. Sehingga kerinduan munculnya Hoegeng-Hoegeng yang baru sedikit terobati. Edi S Ginting. Direktur Eksekutif INW

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :