Djoko Waluyo 08/01/2016

dan2aPOSKOTA.CO – Menurut sang pelatih di sangar itu, Gustin Ayu Perwitasari (20 tahun), peminat menjadi penari gandrung cukup bagus, dan kini tak ada lagi yang memandang penari gandrung negatif.

“Dulu ajang tarian gandrung sering diidentikkan dengan minum-minuman keras. Kini hal itu dilarang. Apalagi sejak bupatinya Pak Azwar Anas mengintruksikan agar gandrung menjadi ekstra kurikulum di setiap sekolah,” ujar Gustin Ayu.

Ketika kami mengunjungi sanggar tersebut, banyak ibu-ibu yang mengantar anak-anaknya untuk berlatih menari gandrung. Murid-muridnya sendiri terdiri dari anak TK, SD, SMP dan SMA. Umumnya memang wanita, yakni sekitar 70%, tapi ada beberapa pria. Tarian gandrung sendiri memang selalu membutuhkan penari pria sebagai pendamping dalam setiap event.

“Jadwal latihan Sabtu dan Minggu, agar tak mengganggu jadwal sekolah. Mereka hanya membayar Rp.5 ribu sekali datang. Mereka umumnya dari desa Olesari, tapi ada juga yang dari luar Olesari,” jelas Gustin Ayu.

Saat latihan, suara gending khas Banyuwangi, membuat penari-penari cilik langsung menyeleraskan gerakannya mengikuti irama Banyuwangi. Arena latihan yang tak terlalu besar dengan relief tembok penari gandrung berubah menjadi panggung yang hebat.

Menurut Budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan, sekarang gandrung tak identik dengan kalangan marginal atau kelas bawah. “Stigma itu sudah usang”, kata Hasnan Singodimayan.

Lanjut Hasnan, sekarang banyak penari gandrung dari kalangan atau profesi modern, seperti guru. “Banyak kalangan profesi menekuni tari gandrung, bahkan dari kalangan intelektual,” kata pengarang novel ‘Suluk Mutazilah’ dan ‘Niti Negari Bala Abangan’ ini.

Sejarah penari gandrung Banyuwangi sendiri cukup panjang dan menarik. Diawali dari gandrung Marsan, sebagai penari gandrung pertama. Ternyata ia seorang penari gandrung pria (Gandrung Lanang), dan menjadi legenda.

Ia hidup di abad 18. Bisa dipastikan Marsan seorang transgender. Dulunya penari gandrung penarinya memang terdiri dari anak laki-laki berumur antara 7 hingga 16 tahun. Dan Marsan yang paling konsisten menekuni profesi gandrung hingga dewasa.

Marsan sendiri benar-benar fenomenal. Ia dilahirkan mendahului zaman rekan-rekannya sesama transgender yang hidup di abad millinium ini. Zaman sekarang tak sedikit profesi model (pria) yang berpenampilan wanita, dengan bayaran selangit. Bahkan ada transgender yang ‘menyelinap’ ikut kontes kecantikan Miss Universe milik Donald Trump.

Era gandrung pria yang dengan sosok Marsan kemudian tergantikan oleh penari wanita, bernama Semi. Dialah penari gandrung wanita pertama. Ia putri dari warga Cungking bernama Ruminah, dan nama suaminya bernama Midin. Semi anak kedua dari pasangan ini. Midin asal Ponorogo dan Raminah ada yang mengatakan, wanita asli Banyuwangi, tapi juga ada yang menyebut wanita asal Semarang.

Keluarga Midin – Raminah sendiri dikenal keluarga penari. Anak pasangan ini delapan orang jumlahnya. Semua yang wanita menggeluti gandrung, kecuali Midah anak sulungnya dan anak-anaknya yang lelaki. Selebihnya, seperti adik Semi yang bernama Suyati (anak ke 4), lalu ada Misti (anak ke 6), dan Miyati (anak ke 8), semua jadi penari gandrung.

Namun dari keluarga ini yang menjadi gandrung legenda hanya Semi. Ia sejajar dengan 6 penari gandrung Banyuwangi legendaris lainnya, yaitu Pikah, Aripah, Aenah, Temu, Pon, dan yang terakhir legenda hidup Supinah yang kini mendirikan sanggar tari gandrung ‘Sayu Sarinah’. oleh- dann julian (habis)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :