oleh

Diduga Bantu Penyelundup, Empat Pejabat Bea Cukai Batam Tersangka

POSKOTA.CO – Empat pejabat Beacukai Batam ditetapkan tersangka bersama satu tersangka lainnya oleh Kejaksaan Agung.

Dengan demikian Kejaksaan Agung menetapkan lima tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyalahgunaan kewenangan dalam importasi tekstil pada 2018 hingga 2020.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Hari Setiyono mengatakan keempat aparat Ditjen Beacukai  Batam tersebut yakni Kepala Bidang Pelayanan Fasilitas Kepabeanan dan KPU Bea dan Cukai Batam berinisial MM.

Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai   DA, Kasi Kepabeanan Bea dan Cukai pada Bea-Cukai HAW, Kasi Kepabeanan dan Cukai pada Bea-Cukai inisial KA, serta  satu pengusaha pemilik PT Flemings Indo Batam (FIB) dan PT Peter Garmindo Prima (PGP) inisial IR.

Hari mengatakan penetapan tersangka saat ini didasarkan pada alat bukti yang diperoleh penyidik. Namun kelima tersangka belum ditahan pihak Kejagung.

Meski demikian, Hari mengakui belum menahan para tersangka .”Berdasarkan surat perintah penyidikan nomor 22 tanggal 27 April 2020 dan nomor 22a tanggal 6 Mei 2020 pada hari ini menetapkan 5 orang tersangka,” katanya.

Dalam penyidikannya Kejagung menduga terdapat  556 kontainer di wilayah Bea dan Cukai Batam yang tidak sertai dengan kelengkapan surat-surat tertentu.

Berapa kerugian negara akibat ulah oknum Beacukai Batam tersebut, Kejagung masih menghitungnya.

Kejagung menemukan adanya dugaan pengurangan volume dan jenis barang,  dengan tujuan mengurangi kewajiban bea masuk.

“Didapati ketidaksesuaian mengenai jumlah dan jenis barang antara dokumen PPFTZ-01 keluar dan isi muatan hasil pemeriksaan fisik barang oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan KPU Bea Cukai Tanjung Priok. Setelah dihitung, terdapat kelebihan fisik barang masing-masing untuk PT PGP sebanyak 5.075 rol dan PT FIB sebanyak 3.075 rol,” ujar Hari.

Dugaan adanya tindak pidana korupsi dalam proses impor tekstil tersebut berawal pada 2 Maret 2020. Ditemukan 27 kontainer milik PT FIB dan PT PGP dicegah oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok.

Selain itu, di dalam dokumen pengiriman disebutkan kain tersebut berasal dari Shanti Park, Myra Road, India, dan kapal pengangkut berangkat dari Pelabuhan Nhava Sheva di Timur Mumbai, India. Namun, faktanya, kapal pengangkut tersebut tak pernah singgah di India dan kain-kain tersebut ternyata berasal dari China. (d)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *