oleh

Diana Dewi: Pandemi Covid-19 Jadi Momentum untuk Reformasi Struktural dan Ekonomi

POSKOTA.CO – Di masa pandemi Covid-19 saat ini, geliat perekonomian perlahan tapi pasti mulai bergerak secara perlahan, walaupun semuanya itu tetap menjalankan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah tetap dipatuhi bersama. Demikian pada masa transisi, sejumlah sektor bisnis mulai dibuka kembali. Kendaraan massal dan nonmassal diizinkan beroperasi. Namun pelonggaran aturan pembatasan ini dilakukan terukur. Salah satu contoh, kendaraan pribadi boleh diisi penuh asal penumpangnya satu keluarga.

“Semenjak penerapan PSBB Transisi di DKI Jakarta, geliat perekonomian di Ibu Kota sudah mulai meningkat. Beberapa sentra ekonomi di Jakarta juga mulai dibuka sejak awal Juni 2020 lalu. Di masa transisi seperti saat ini ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh dunia usaha. Tantangan tersebut tak jauh-jauh dari aturan atau protokol kesehatan yang harus diterapkan setelah kembali membuka usaha. Sebab, hingga saat ini aktivitas masyarakat masih harus berdampingan dengan pandemi yang belum berakhir,” demikian kata Hj Diana Dewi SE, ketua umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) DKI Jakarta dalam Fokus Group Discussion (FGD) secara virtual dengan topik “Strategi Menggerakkan Sektor Riil untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi di Provinsi DKI Jakarta”, Kamis (16/7/2020).

Dijelaskan Diana Dewi, dampak Covid-19 terhadap ekonomi pun dilaporkan dalam laporan Bank Dunia bertajuk “Global Economic Report June 2020”, menyatakan, bahwa penyebaran Covid-19 yang berkelanjutan menimbulkan pengaruh ekonomi pada semua level, global, regional dan nasional. Pertumbuhan ekonomi global diprediksi terkoreksi cukup signifikan sampai menyentuh angka minus 5,2 persen.

“Pada level regional, pertumbuhan ekonomi di Asia-Pasifik pun diproyeksikan mengalami penurunan tajam mencapai 0,5 persen. Ketika rantai pasok membaik secara bertahap, maka pertumbuhan global juga akan terangkat menjadi 6,6 persen,” ujar Ketua Umum DPP Asosiasi Industri Pengelolaan Daging Skala UKM dan Rumah Tangga ini.

Menurut Diana Dewi yang juga direktur utama PT Garindo Food International, ada lima yang diperhatikan dalam hal ini yakni, terganggunya rantai pasokan global (global value chain), berubahnya pola konsumsi masyarakat, menurunnya tingkat konsumsi karena harga yang terdistorsi akibat mahalnya biaya transportasi dan logistik barang, kinerja industri manufaktur di Indonesia kemungkinan akan melambat seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19.

“Dan selain penyelamatan kesehatan serta nyawa masyarakat menjadi prioritas utama, penyelamatan ekonomi sangat penting untuk menjaga stabilitas keamanan, sosial, dan politik,” ucap Komisaris PT Suri Nusantara Jaya.

Di sisi lain, Diana Dewi yang juga menjabat Komisaris Suri Nusantara Jaya Logistik ini menerangkan, bahwa pandemi ini menimbulkan momentum untuk reformasi struktural dan ekonomi, peningkatan keahlian, mengubah metode bisnis dari offline ke online, serta menguatkan digitalisasi untuk aktivitas ekonomi dan sosial. Bidang perekonomian, meyakini bahwa digitalisasi dari berbagai proses bisnis yang digabungkan dengan industrialisasi pada beberapa sektor merupakan prasyarat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, inklusif, seimbang, dan berkelanjutan.

“Selama pandemi, memang ada bisnis-bisnis yang sangat terdampak, tetapi ada juga yang menjadi pemenang. Sektor pemenang termasuk perusahaan yang mengedepankan teknologi digital dan beroperasi dalam bidang pembayaran digital, logistik, kesehatan, teknologi informasi dan edukasi,” imbuhnya.

Sementara itu untuk bisnis yang luar sektor digital, lanjut Diana Dewi, ada beberapa sektor yang mencatatkan pertumbuhan positif, yakni rokok, batu bara, makanan pokok, farmasi dan kesehatan, serta minyak nabati.

“Sedangkan yang terdampak sangat besar yakni sektor pariwisata, jasa tidak esensial, kontruksi, hotel, restoran, katering, pekerja seni,” ungkapnya.

Lebih lanjut Diana mengatakan, bahwa keberhasilan PSBB masa transisi ini ada pada law enforcement. Pemerintah pun harus menjalankan organisasi yang paling kecil, mulai dari RT/RW untuk mencegah penyebaran. Selain itu edukasi kepada masyarakat juga harus senantiasa dilakukan, new normal juga mesti disadari tidak serta merta menciptakan ‘demand’ yang besar.

“Oleh karena itu harus menciptakan imej produk yang kuat dan dicari masyarakat, dibutuhkan juga kolaborasi antara pengusaha kecil dan besar peran pemerintah untuk membangun ekosistem rantai pasok di setiap sektor usaha. New normal/masa transisi perlu dijalani karena akan turut mendorong ekonomi untuk ‘recovery’,” kata Dewan Penasihat Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) ini.

Dikatakan Dina Dewi, ada empat kebijakan yang harus diterapkan dalam dunia usaha yakni, pelonggaran standar persyaratan sebagai debitur di perbankan, memberikan keringanan bunga bank untuk semua sektor usaha, untuk debitur pemula yang selama ini tidak terjangkau oleh bank banyak pengusaha mikro agar dapat difasilitasi dengan persyaratan yang lebih dipermudah.

“Adanya insentif di bidang perpajakan terutama terkait dengan pajak daerah seperti pajak hiburan, hotel, dan restoran yang juga diharapkan mendapat keringanan dan kompensasi dari pemerintah daerah akibat dari penutupan tempat hiburan dan sepinya pengunjung hotel, restoran dan properti,” tuturnya.

Dina Dewi juga berharap agar usaha seperti UMKM punya kemampuan menyerap 89,2 persen tenaga kerja, serta berkontribusi sekitar 60 persen terhadap PDB. Karenanya, sektor UMKM akan menjadi ‘key success factor’ pemulihan ekonomi, utamanya di sektor riil.

“Untuk menciptakan iklim usaha yang sehat bagi industri kecil. Salah satu bidang yang tercakup pada program keterkaitan adalah keterkaitan antara industri kecil dengan industri besar melalui pola kerja sama keterkaitan sistem bapak angkat, yang lebih dikenal dengan sistem bapak angkat anak angkat. Dengan mengembangkan kembali konsep ini, maka para industri kecil dan UMKM akan mendapatkan pembinaan dari perusahan besar. Konsep ini akan memotivasi usaha kecil dan mikro untuk mengembangkan jaringan pasar serta kemitraan usahanya. Sehingga sektor usaha di masyarakat bawah dapat bergerak di era trasnisi ini,” pungkasnya. (lian tambun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *