oleh

Rugikan Pedagang, Kades Tenjomaya Dipolisikan

-Daerah-433 views

POSKOTA.CO – Diduga rugikan pedagang, Muhammad Hasanudin, kepala Desa Tenjomaya, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon dilaporkan kepada pihak Kepolisian Sektor Pabuaran oleh Aryati Maemunah (53), warga Desa Babakan, Selasa(7/7/2020).

Berawal dari pesanan sarung yang di minta Muhammad Hasanudin kades Tenjomaya kepada salah satu pedagang Aryati Maemunah (53) di bulan Ramadan/Mei 2020 sebanyak 100 buah yang rencananya dibagikan untuk THR (tunjangan hari raya) kepada perangkat desanya belum dibayarkan selama dua bulan sampai dengan saat ini Juli 2020 kepada Aryati.

Dalam perjanjiannya lewat chat WhatsApp dengan Aryati, Muhammad Hasanudin berjanji akan melunasi pesanan sarungnya dalam waktu dekat kepada Aryati. Namun janjinya tidak pernah ditepati dengan alasan belum ada uang.

Karena habis kesabaran Aryati pun kembali menagih kepada Muhammad Hasanudin di kantor Desa Tenjomaya dengan dibuatkan surat pernyataan perjanjian ulang pada tanggal 1 Juli 2020 dengan menggunakan kop surat dan stampel Desa Tenjomaya.

Dalam surat pernyataan tersebut, Muhammad Hasanudin berjanji akan melunasinya pada tanggal 3 Juli 2020 dengan dibubuhi sanksi bilamana dirinya tidak menepati janji bersedia diproses secara hukum.

Namun lagi-lagi perjanjian tersebut tidak diindahkan Hasanudin, sehingga Aryati pun kesal dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Polsek Pabuaran.

Dalam pengaduannya kepada pihak Polsek Pabuaran, Aryati mengaku dirinya sering dipermainkan Hasanudin saat menagih pelunasan sarung yang dipesannya dengan janji-janji yang tidak pernah ditepati.

Bahkan setiap kali Aryati berusaha menemui Hasanudin di kantor desa dan rumahnya, dia selalu menghindar bahkan sulit dihubungi Aryati untuk menagih janji yang tidak pernah ditepati oleh Hasanudin selaku kepala Desa Tenjomaya.

Kepada POSKOTA.co, Aryati mengaku, dirinya merasa dipermainkan oleh Hasanudin. “Saya kan mau mengambil hak saya, uang saya yang dijanjikan Pak Kuwu, tapi kok begitu ya seorang kuwu tega mempermainkan saya seorang janda yang hanya sebagai pedagang dengan penghasilan pas-pasan. Saya sangat membutuhkan uang tersebut untuk kebutuhan dan anak-anak saya yang sedang menimba ilmu agama di pondok pesantren,” ujarnya.

“Batin saya sangat sakit saat anak saya menelepon meminta uang untuk keperluannya di sana, sementara hanya uang yang ada di Pak Kuwu satu-satunya harapan saya untuk keperluan anak saya di pondok. Tapi begitu susahnya mengambil hak saya yang hanya diberikan janji, dan janji dari seorang kuwu yang jelas-jelas sudah merugikan saya karena itu uang modal saya buat hidup sehari-hari,” imbuhnya.

“Kepada pihak kepolisan sekiranya dapat membantu memberikan keadilan untuk saya, walaupun pihak kepolisian belum menemukan bukti pidana, namun sekiranya dari setiap janji Pak Kuwu yang belum pernah ditepati sampai saat ini dapat menjadikan perkara pidana yang dilakukan Pak Kuwu terhadap saya sebagai rakyat kecil, karena ke mana lagi harus meminta bantuan keadilan bagi saya selain kepada pihak penegak hukum,” pungkas Aryati dengan berbata-bata menahan rasa harunya. (wahy)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *