oleh

Perubahan di Sektor Pertanian, Muchtar-Bakri Akan Menata Produksi dan Harga Cengkeh-Coklat

-Daerah-300 views

POSKOTA.CO – Diusung Partai Golkar, PDIP, PKB, Gerindra dan Hanura, pasangan Muchtar Deluma-Bakri Idrus atau Muchtar-Bakri maju sebagai calon bupati dan wakil bupati Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng) dengan motto ‘Hadir untuk Perubahan’.

Motto Perubahan yang dimaksudkan pasangan Muchtar-Bakri ini adalah lepas dari belenggu “kemiskinan” guna meraih kembali Tolitoli yang indah, berdaya saing, harmonis dan sejahtera yang telah hilang sejak dua puluh tahun silam. Motto perubahan tersebut insya Allah diwujudkan Muchtar-Bakri ke dalam misi di sejumlah sektor.

Ditemui di media center pemenangan Muchtar-Bakri, calon wakil bupati Tolitoli Drs Bakri Idrus Apt, MM mengatakan, salah satu misi pasangan Muchtar-Bakri adalah meningkatkan produktivitas di sektor pertanian, di mana dua puluh tahun terakhir terus tergerus, baik kualitas, kuantitas, harga maupun pemasarannya.

Dikatakan Bakri, salah satu produktivitas disektor pertanian yang akan ditingkatkan jika Muchtar-Bakri mendapat kepercayaan rakyat ialah pruduksi komodi cengkeh dan kakao (coklat).

Seperti diketahui, tanaman cengkeh dan coklat selama ini hanya dikelola secara mandiri dan teradisional oleh petani, belum lagi pluktuasi harga yang acap kali anjelok, sehingga petani tidak mendapat apa-apa setelah musim panen usai.

Karenanya, kata Bakri Idrus, untuk atasi masalah tersebut Muchtar-Bakri akan menata produksi dan harga komoditi dengan menyiapkan dan mengerahkan segenap sumber daya yang dibutuh dalam bertani cengkeh dan coklat agar kualitas dan produksi serta harganya menggembirakan.

Digambarkan Bakri, nantinya pemerintah daerah (pemda) akan lakukan peremajaan tanaman cengkeh dan coklat, dengan tentu didampingi tenaga ahli untuk itu, serta tenaga dari alumni kampus pertanian setempat, sehingga produksi dan kualitasnya tercapai.

“Begitu produksinya sudah maksimal, maka langkah selanjutnya yang kita dilakukan adalah penentuan regulasi tentang standar harga cengkeh dan coklat, sekaligus membuka pasar antar pulau,” ujar pemilik Apotek Balonipa Tolitoli itu.

Ditambahkan, hasil panen cengkeh dan kakao petani tadi kita dari pemda yang beli lewat badan penyangga cengkeh dan kakao, yaitu perusahaan daerah (perusda) dengan harga standar yang telah ditetapkan.

“Setelah itu, penyangga atau prusda ini kemudian cari di mana harga itu bagus, apakah di Makassar, Kalimantan atau di Pulau Jawa, di mana harga bagus di situ kita (perusda-red) buat Memorandum of Understanding (MoU), perjanjian kerja sama dagang antarpulau cengkeh dan coklat (CDC),” terang Bakri.

Ada yang tanya bisakah itu, tambah Bakri kenapa tidak, di Gorontalo bisa, masa La Bolong (nama pengusaha cengkeh-coklat terkenal piawai di Tolitoli) bisa, kenapa kita tidak bisa. Selama ini kalian (pemda) buatkan macam-macam program pertanian, begitu panen tiba bingung dia (petani) mau jual kemana.

“Masa dia (petani-red) lagi yang cari pasaran, masyarakat lagi yang cari harga, di mana fungsinya pemerintah di situ (di sektor komoditi cengkeh dan kakao-red),” ujarnya, seraya dikatakan hari ini pemerintah tidak mau pusing hal itu.

Dikatakan, harusnya kan pemerintah berpikir dan berpikir, apa yang seharusnya dilakukan supaya masyarakat ini bisa hidup. Akhirnya apa, produksi cengkeh dan coklat kita anjlok dari 9 ribu ton per tahan, sekarang tinggal 100 ton, itu pun untung kalau dapat.

“Kenapa demikian, ya itu tadi, pemerintah tidak melakukan pendampingan petani, tidak sediakan ahli untuk itu, pada hal perguruan tinggi pertanian kita sudah ada, tinggal kualitasnya yang di tingkatkan,” kunci Bakri. (din)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *