oleh

Penambangan Pasir Sungai Cisanggarung Diduga Belum Disikapi Serius Pemda Kuningan

-Daerah-138 views

POSKOTA.CO – Aktivitas penambangan pasir Sungai Cisanggarung hingga saat ini diduga belum disikapi serius pihak Pemerintah Daerah (Pemda) Kuningan, Jawa Barat.

Belasan tahun kegiatan tambang pasir sungai yang berlangsung pada aliran Sungai Cisanggarung di Desa Legok, Cikeusal, Cikeusik dan Jatimulya wilayah timur Kuningan hingga sekarang belum juga dihentikan.

Padahal, indikasi dampak buruk pengerukan pasir dari dalam Sungai Cisanggarung ini sudah memperlihatkan tanda-tanda di antaranya, bantaran lahan pertanian produktif milik warga Desa Kananga, Kecamatan Cimahi dari waktu ke waktu terkikis erosi sehingga luas datarannya semakin menyusut.

Lebih ironis lagi, pantauan POSKOTA.co di lokasi, Jumat (19/6/2020), terdapat aktivitas penambangan pasir ini yang berjarak cukup dekat dengan bangunan jembatan baru Desa Cikeusik.

Di sebelah hilir jembatan baru yang menghubungkan Desa Cikeusik, Kecamatan Cidahu dengan Desa Cikeusal, Kecamatan Cimahi terlihat beberapa rakit terbuat dari bambu menjadi alat pengangkut pasir dari dalam sungai itu digunakan para penambang.

Hal tersebut, berpotensi memberikan dampak cepat terjadinya kerusakan terhadap pondasi tiang-tiang jembatan baru ini.

Ketika dikonfirmasi POSKOTA.co di ruangan kerjanya, Jumat (19/6/2020), Camat Cidahu, Kabupaten Kuningan Rusmiadi AP, MSi sempat menyampaikan keprihatinannya terhadap kegiatan pengerukan pasir dari dalam Sungai Cisanggarung ini.

Sebagai kepanjangan tangan dari pihak Pemerintah Daerah Kuningan, dirinya sudah melakukan komunikasi dengan para penambang dimaksud.

“Kami Pemerintah Kecamatan Cidahu pernah mengingatkan warga penambang pasir di situ agar menjaga dampak buruk yang ditimbulkan,” jelasnya.

Namun demikian dia menyadari, pemerintah kecamatan tidak memiliki kewenangan lebih jauh untuk mengatasi masalah tersebut.

“Kegiatan pengerukan pasir dari dalam Sungai Cisanggarung ini memang sudah menjadi mata pencaharian sejumlah warga sekitar sehingga tidak mudah begitu saja dihentikan,” ujarnya.

Rusmiadi hanya dapat memberikan solusi, salah satunya warga penambang mendapat uluran bantuan modal dari Pemda Kuningan untuk menjalankan kegiatan usaha lain, sehingga bisa meninggalkan mata pencaharian pengerukan pasir. (ns)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *