oleh

Ketahanan Pangan Harus Dimulai dari Desa dengan Menggunakan BUMDes atau BUMDes Bersama

BUMDes diperkuat dengan membangun menjaring antarsesama BUMDes dalam usaha penguatan ketahanan pangan. Jual beli produk pangan dinilai menjadi pilihan bisnis yang tepat bagi BUMDes pada masa pandemi Covid-19. Penggunaan syarat dalam pembangunan jejaring antar BUMDes. Menurut Iwan Sulaiman, desa adalah soko guru pangan Indonesia.

Maka ketika Pemerintah Joko Widodo berencana akan membangun food estate sejatinya haruslah berbasis pada pemberdayaan dan pembangunan desa. “Karena itu saya sepakat bahwa penguatan ketahanan pangan harus dimulai dari desa yang dalam hal ini bisa menggunakan BUMDes atau BUMDes bersama. Dengan BUMDesma maka ketahanan pangan baik secara internal di wilayah perdesaan tersebut maupun desa –desa antar wilayah kabupaten dapat tertanggulangi. Ada contoh kasus menarik di Kabupaten Bantul yang telah membentuk konsorsium BUMDes dari 5 desa di kawasan perdesaan dalam bentuk PT Pasar Desa Indonesia. Di konsorsium tersebut menjual berbagai varian pangan. Hal ini yang sesungguhnya dapat menjadi rujukan bagi desa – desa lainnya di Indonesia,”ujar Pendiri dan CEO desapedia.id, Selasa (25/8/2020).

Kementerian Desa. Pembangunan daerah tertinggal, dan Transmigrasi mencatat terdapat 10.629 BUMDes dari 37.328 BUMDes yang mampu bertahan selama pandemi COVID 19 di Indonesia. Pemerintah telah menerbitkan Nomor Registrasi bagi 10.629 BUMDes tersebut sebagai landasan hukum untuk mempermudah mereka mengakses pinjaman modal dengan bunga lunak dalam program pemulihan ekonomi nasional.

Kata Iwan, dengan kondisi pandemi seperti ini, tentu saja ini menjadi peluang besar bagi BUMDes untuk mengakses pinjaman modal dengan bunga lunak, terlebih hal ini sudah menjadi bagian dari program PEN. Namun demikian, menurut Iwan, BUMDes sebaiknya memanfaatkan dukungan dana desa yang bersumber dari APBN untuk memperkuat modal, sumber daya dan jenis usaha yang akan dijalankan,katanya.

Dalam situasi seperti sekarang ini pilihan bisnis jual beli bahan pangan adalah pilihan yang paling masuk akal selama masa pendemi COVID 19 pengembangan jasa wisata yang dikelola sejumlah BumDes belum dapat dilakukan secara berkelanjutan selama pendemi belum usai.

Namun kebutuhan akan pangan tetap selalu ada. Menurut pendiri dan CEO desapedia.id ini, Pengembangan desa wisata dapat dikerjakan oleh BUMDes yang bergerak di bidang pariwisata.

‘Sedangkan kebutuhan pangan dapat dikerjakan oleh BUMDesma, seperti yang saya sampaikan diawal. Maka diperlukan kolaborasi diantara semuanya,” tandasnya.

Konsorsium desa itu merupakan model menarik yang bisa dijadikan acuan pembangunan desa di Indonesia. Konsorsium tersebut berbasis BUMDes setiap desa yang memiliki produk unggulan dan khas. Kata Dia, pembentukan konsorsium desa harus berbasis pada amanat UU Desa, yaitu memperkuat pembangunan, pemberdayaan, pemerintahan dan kemasyarakatan desa. sehingga tidak hanya bisnis semata, katanya.

Kementerian Desa PDTT telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Desa dan PDTT Nomor 15 tahun 2020 tentang padat karya tunai desa dan pemberdayaan ekonomi melalui BUMDes .

Salah satu tujuan surat edaran itu adalah untuk memperkuat peran BUMDes dalam pengelolaan program PKTD. Iwan mengiyakan bahwa PKTD dapat dikelola oleh BUMDes untuk kegiatan ekonomi produktif dan inovatif yang pengelolaannya berbasis desa.

“Ini harus murni untuk warga desa dan dikelola oleh desa. Maka dibutuhkan pengawasan berkelanjutan baik dari BPD maupun dari masyarakat desa itu sendiri,” pintanya.

Iwan Sulaiman Soelasno Pendiri dan CEO desapedia.id berharap, Perangkat Pemerintah Desa merangkul dan memfasilitasi UMKM Desa berkolaborasi dengan BUMDes agar persoalan – persoalan klasik yang ada selama ini dapat tertangani, seperti misalnya soal off taker, SDM, keberlanjutan produksi, kalah persaingan, dan harga.

“Pemerintah sebaiknya juga jangan terlalu memberikan regulasi yang berlebihan (over regulation) kepada desa agar Pemdes bisa fokus pada pemberdayaan dan pembangunan desa,” tandasnya. (Lian Tambun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *