oleh

Cirebon yang Semakin Dilupakan

-Daerah-143 views

POSKOTA.CO – Dulu sekali, Cirebon adalah sebuah daerah besar yang dikenal seantero negeri. Kebaradaanya adalah perwujudan dari sebuah daerah yang multikultur dan disegani.

Sebuah daerah yang menjadi simbol peradaban baru, peradaban Islam yang berdiri di atas segala perbedaan. Sebuah peradaban agung rajutan para wali dan keturunan raja.

Sebelum datangnya Islam masuk ke dalam daerah Kerajaan Singhapura memilik pelabuhan yang ramai. Pelabuhan inilah yang membuat daerah ini dikenal oleh para saudagar mancanegara. Konon kayu-kayu jati telah sekian lama menjadi primadona yang diekspor ke penjuru dunia.

Tercatat Laksamana Ceng-ho pernah berlabuh di daerah ini. Bahkan tersiar kabar Ceng-ho sempat membuatkan mercusuar di Pelabuhan Muara Jati.

Pelabuhan telah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Sementara pantai menjadi penyambung hidup, dan laut menjadi ruh kehidupan bagi penduduknya. Keterkaitan erat masyarakat dan pelabuhan serta lautnya ini dihancurkan bertubi-tubi saat Belanda datang dan menguasai jalur perdagangan laut.

Belanda menjauhkan dari interaksinya dengan dunia luar, termasuk dari mitra dagangnya dari Arab, Toongkok dan India. Cirebon diisolasi dan diubah jiwa baharinya dengan dibangun jalan batu serta rel kereta. Jutaan nyawa melayang dalam kerja paksa pembangunan infrastruktur masa Belanda.

Tapi kerugian terbesar adalah hilangnya karakter manusia bahari dalam jiwa masyarakat Cirebon dan sekitarnya.

Pelabuhan Cirebon tempo dulu.

Tapi Cirebon masih bisa dibanggakan karena punya perkebunan yang menghasilkan. Catatan manis masih ditorehkan hingga masa-masa perkebunan tebu Cirebon menguasai pasar dunia. Setelah Belanda hengkang dan pasar gula terus melemah, perkebunan tebu mulai mengalami penurunan.

Ada juga produksi udang yang membuat kota ini dikenal dengan sebutan Kota Udang. Sebutan yang diwariskan kompeni (VOC), lalu Belanda dan terus dilestarikan hingga kini.

Saat tebu mulai kehilangan pamor, pada periode 1980-an bangkitlah industri rotan. Industri pengolahan rotan ini, berhasil menghasilkan nilai ekspor yang sangat tinggi, bahkan bagi Indonesia. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Meskipun terus berproduksi, sentra pengolahan rotan tak segemilang dulu. Sekarang rotan telah tenggelam.

Sekarang apa yang bisa dibanggakan. Cirebon kota wali hanya sebuah keyakinan tak berdasar. Pameo yang muncul karena keampuhannya melumpuhkan rakyat saat pemiihan kepala daerah (pilkada).

Udang yang menjadi simbol kebanggaan pemerintah daerah pun seolah tak mempunyai relevansinya dalam kehidupan. Sisi kehidupan sebelah mana yang menunjukkan kedigdayaan udang, kecuali romantisme sejarah yang lagi-lagi ‘dijual’.

Jalan Tol Cikopo-Palimanan dan Metropolitan Cirebon Raya bukan hal yang pantas dibanggakan. Tol Cipali tidak akan memberikan apa-apa bagi Cirebon saat jalan sudah bisa tembus hingga Semarang, atau bahkan Surabaya.

Metropolitan Cirebon Raya pun tak lebih dari politik nina bobo provinsi dalam menghadapi ‘pemberontakan’ Cirebon.

Jalan tol, bandara, pelabuhan dan semua konsep pembangunan hanya untuk kepentingan pusat atas lokal. Sekarang Cirebon bukan apa-apa. Sepertinya benar kata orang, Cirebon sudah mulai dilupakan.

Cirebon masa kini tak lebih dari sebuah titik kecil dalam bangunan kapitalisme, yang dalam logika operasionalnya selalu menguntungkan para pemodal. Industri, hotel, mal dan toko moderen yang selalu memenangkan panggung. Sementara para penduduknya harus rela mundur dan terus terdesak hingga pelosok kabupaten.

Dengan begitu, Cirebon sama dengan ratusan bahkan ribuan kota lainnya, tak ada yang beda, tak ada yang istimewa. Oleh karenanya, wajar bila Cirebon mulai dilupakan orang.

Tak ada yang tersisa dari daerah kecil ini, kecuali tentu saja lagu-lagu lama yang serba indah dan serba megah itu.

Cirebon adalah kota wali, sebuah utopia yang direnda dari sejumput keyakinan, bahwa Cirebon adalah puser bumi, pusat semesta, sumber segala hal yang baik dan megah.

Jadi saya kira cukup sudah kita merasa ‘gumede’ bahwa Cirebon adalah sebuah peradaban besar.

Ia sejatinya kerdil belaka, karena tak punya apa-apa selain kaset romantisme yang terus-terusan di putar ulang. Kita rakyatnya pun nyaman dan tak merasa bosan mendengarkan maupun mendendangkannya.

Hei, kau lekas bangun dari mimpimu. Berkaryalah untuk hari ini dan esok hari yang indah. (dikutip dari kulumkalam/cw-dea/wahy)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *