KISAH ADAM DAN HAWA bag-8 – Poskota.co
Saturday, September 23

KISAH ADAM DAN HAWA bag-8

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Jika kita membuat hidup kita lebih simpel, itu takkan rumit lagi. Kita harus mengawasi pikiran kita dengan hati-hati, untuk memahami apa yang ia minta, bagaimana ia mendapatkan apa yang ia minta, bagaimana ia
mengganggu kita, dan bagaimana ia mengendalikan diri kita.

Setelah kita melakukan analisa yang jelas, kita akan memiliki wawasan yang lebih baik. Kita harus bersikap ketat terhadap diri kita, mengamati diri kita seolah-olah keluar dari tubuh kita, dan bertanya, “Untuk apa engkau
menginginkan ini?

Apalagi yang engkau inginkan setelah engkau mendapatkan ini? Berapa banyak waktu, uang, dan upaya yang engkau harus bayar untuk itu? Apa yang dapat engkau lakukan dengan ini?”

Gali dengan mendalam pertanyaan-pertanyaan ini; jika tidak, kita mungkin menjadi budak bagi pikiran kita sendiri sementara kita tetap percaya bahwa kita cukup bebas untuk melakukan apa pun yang kita inginkan.

Tidak, itu adalah tidak disiplin, bukan kebebasan. Kebebasan artinya melakukan sesuatu jika kalian perlu, dan tidak melakukannya jika itu salah. Di sisi lain, melakukan apa yang pikiran kita suruh kita lakukan adalah memanjakan diri kita. Kita takkan pernah meningkat dengan cara ini.

Itu hanya akan membawa kebaikan bagi kita jika kita bersikap ketat terhadap diri kita, bukan terhadap orang lain. Tak ada apa pun yang gratis di dunia ini. Kita harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita harus bersikap ketat terhadap diri kita, sangat ketat, untuk mendapatkan karakteristik dan tingkat yang kita kejar.

MEMANJAKAN DIRI

Jika kita hanya ingin memanjakan diri kita, itu sangat mudah. Kita mungkin
mengikuti saja apa yang pikiran diktekan dan percaya bahwa itulah kebebasan. Tak ada yang akan turut campur, tak ada yang akan peduli; kita sendiri juga takkan peduli. Tapi, itu salah. Itu adalah perbudakan, bukan kebebasan. Seluruh dunia kacau-balau. Ia selalu mendapati aturan dan ajaran saya sulit untuk diterima, meski saya menyampaikan kebenaran.

Orang berpikir bahwa saya terlalu keras kepada mereka dan mereka tak tahan. Mereka ingin melakukan apa saja yang mereka inginkan karena itu lebih mudah. Tapi, ke mana cara mudah ini membawa kita? Kita terbiasa menjalani cara yang mudah, tanpa peduli apakah itu benar atau salah.

Karena itu adalah cara yang mudah dan menyenangkan. Kita terus menjalaninya dan tak pernah ingin berbalik. Terus berjalan adalah lebih mudah daripada memutar balik mobil kita, meski kita sebenarnya semakin jauh dari tujuan kita.

Oke saja untuk terus berjalan, tapi kita pertama-tama harus memastikan bahwa itu adalah jalan yang benar. Hanya karena itu jalan bebas hambatan yang lebar, bukan berarti kita harus selalu mengambilnya. Jika rumah kita berada di arah yang lain, kita perlu membelok atau bahkan memutar balik mobil kita, tidak peduli seberapa sulitnya itu. Kita tak bisa melaju cepat terus-terusan hanya karena itu adalah jalan bebas hambatan yang lebar, tapi kita juga jangan menyerah karena jalan yang sempit.

Jika kita menyerah, kita takkan pernah kembali ke tempat kita ingin pergi. Kebebasan bukanlah selalu bergerak lurus ke depan – itu adalah kebodohan. Perbedaannya terletak pada tiadanya pengendalian diri. Orang yang tak bertanggung jawab mungkin terlihat sama seperti mereka yang memiliki kebebasan karena mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan
dan mereka percaya bahwa mereka bebas. Tidak, itu adalah sikap lalai
terhadap tugas seseorang, dan mereka bersikap terlalu enteng terhadap
diri mereka.

TAMAN EDEN

Jadi, sekarang kalian mengerti. Cerita Taman Eden ini bukan hanya tentang sebutir buah. Ini adalah cerita perumpamaan yang memberitahu kita bahwa tidaklah mudah bagi kita untuk mematuhi orang lain. Jika orang menyuruh kita agar tidak melakukan sesuatu, kita harus melakukan seperti itu saja.

Pikiran kita mengacaukan apa-apa seperti ini, melakukan apa yang diperingatkan agar tidak dilakukan. Itu sebabnya Adam dan Hawa mendengarkan seekor ular hanya karena sebutir buah. Mereka tahu betapa baiknya Tuhan terhadap mereka, memberi mereka seluruh dunia untuk keperluan mereka, tapi mereka tidak bersyukur.

Mereka percaya kepada ular yang bermuka dua dan mereka memakan apa yang dilarang Tuhan. Kita seharusnya tidak mencuri apa pun dari penyokong kita, tak peduli betapa pun menariknya kelihatannya. Jika kita sungguh menginginkannya, kita harus memberitahu dia.

Mereka telah diberikan seluruh dunia, tapi mereka tidak puas. Mereka diminta untuk tidak makan buah itu, tapi mereka toh memakannya. Moral cerita ini adalah: tidaklah mudah untuk menjaga diri kita tetap dalam jalur, karena kita selalu mendengarkan orang jahat. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_1031" align="alignleft" width="300"] Hakim sang wakil Tuhan di dunia[/caption]POSKOTA.CO - Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Fadli Zon mengharapkan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) jangan ada yang berasal dari partai politik. "Hakim MK haruslah merupakan orang yang benar-benar kompeten dalam bidang hukum tata negara dan bukanlah seseorang yang pernah bergabung dengan partai politik," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra dalam rilisnya, di Jakarta, Jumat. Menurut dia, bila hakim MK yang terpilih berasal dari partai politik dikhawatirkan hanya mementingkan kepentingan golongannya saja sehingga mengakibatkaan potensi penyelewengan menjadi sangat besar. "Independensi hakim MK sangat penting untuk menjaga kredibilitas MK sebagai lembaga hukum tertinggi. Perlu diperhatikan juga bahwa keputusan yang dibuat MK adalah bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat. Oleh karena itu Hakim MK sebagai pembuat keputusan haruslah orang yang benar-benar mempunyai integritas," paparnya. Kasus Akil Mochtar hendaknya menjadi pelajaran bagi MK untuk bisa menjaga kredibilitasnya. "Kredibilitas MK dalam penegakan hukum tengah disorot karena kasus Akil Mochtar. Oleh karena itu MK harus memastikan bahwa kasus seperti itu tidak terulang kembali. Jangan sampai rakyat hilang kepercayaan terhadap penegakan hukum," kata Fadli. Di tempat terpisah, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh berpendapat persoalan pemilihan anggota Hakim MK bukan pada asas legalitas tetapi adalah asas kepantasan, etika, dan moral.