BELASAN TEMANNYA MENGAKUI, SIYONO SIMPAN SENJATA – Poskota.co
Wednesday, September 20

BELASAN TEMANNYA MENGAKUI, SIYONO SIMPAN SENJATA

kEPALA BNPT TITO
kEPALA BNPT TITO

POSKOTA.CO – Mantan Kepala Densus yang kini menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT),  Komisaris  Jenderal Tito Karnavian menegaskan, almarhum Siyono masuk dalam jaringan teroris.

“Dalam catatan Densus, dia (Siyono) terlibat dalam jaringan yang sudah ada, dari keterangan ke 13 temannya yang ditangkap, Siyono sebagai pemegang senjata,” kata Tito di Jakarta, Selasa (12/4).

Sementara itu, saat disingung terkait tewasnya terduga teroris Siyono karena melakukan perlawan saat akan pengembangan, Tito hanya menjawab diplomatis. Karena dalam penanganan teroris Densus 88 memiliki standar operasional prosedur (SOP) saat melakukan penangkapan.

“Secara moril dan strategi, apalagi saya mantan Kadensus berkewajiban untuk menjaga agar setiap kegiatan Densus itu sesuai SOP. Karena negara kita sudah memilih opsi penegakan hukum,” ucap Tito.

Sebelumnya, Hasil otopsi dari tim dokter forensik Muhammadiyah terhadap jenazah terduga teroris Siyono, menemukan hal menarik. Ada dugaan, almarhum Siyono tidak melakukan perlawanan terhadap dua anggota Densus 88 yang menjaganya di mobil.

Dari hasil otopsi ditemukan keganjilan terhadap jenazah Siyono tersebut. Keganjilan itu diantaranya, jenazah Siyono tidak pernah dilakukan otopsi sebelumnya, dan tidak benar kalau kematian Siyono disebabkan karena pendarahan hebat di kepala.

Sedangkan temuan lainnya adalah ternyata penyebab kematian Siyono karena ada tulang di bagian dada yang patah dan menusuk jantung.

Bukan Budaya Islam

Sementara itu terpisah, Kader Nahdlatul Ulama (NU), H. Widodo, minta kasus kematian Siyono tidak dipolitisir, apalagi dengan cara memojokkan Densus 88 secara keseluruhan dengan kepentingan kepentingan sesaat. Karena, itu semua bukan dari bagian budaya islam yang rahmatan lil alamin.

“Radikalisme itu sendiri bukan budaya Islam, Islam merupakan rahmat untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, Islam tidak ada mengajarkan radikaisme atau kekerasan, dan perlu dipahami bahwa jangan menyampaikan suatu kebenaran dengan kekerasan atau kebencian” kata H. Widodo.

Agar tidak berlarut, Ia minta kasus Siyono dijadikan pelajaran bagi siapapun, baik itu Densus 88 maupun lembaga lain. “Ayo kita wujudkan Islam yang berbudi luhur dan rahmatan lil alamin,” pintanya.

“Kedepan, Ayo kita sama-sama mencari akar masalah. Mari kita cari persamaan bukan perbedaan untuk kedamaian bangsa ini,” tutup dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_11694" align="alignleft" width="406"] Komjen Budi Gunawan[/caption] POSKOTA.CO - Jimly Asshiddiqie salah sati tim 9 yang dimintai pendapat Jokowi setuju dengan usulan Mensesneg Pratikno mengimbau agar Komjen Budi Gunawan mundur sebagai Kapolri. "Itu sangat indah dan ideal," ungkapnya di gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2015). Menurutnya masalah konflik KPK Vs Polri memang berawal dari ditetapkannya Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka transaksi mencurigakan, padahal saat itu selangkah lagi mantan ajudan Megawati itu akan menjadi Kapolri. Kepada masyarakat dan khususnya jajaran Polri diminta untuk mensuport tegaknya hukum. "Ini untuk kepentingan bersama,Kita harus sama-sama menyelamatkan institusi KPK maupun Polri" tambahnya. Sebelumnya, Mensesneg Pratikno mengimbau agar Komjen Budi Gunawan mundur sebagai Kapolri. Menurut mantan Rektor UGM itu, akan sangat indah jika Budi mundur. Kalau tidak mundur berarti dilema antara politik dan hukum ini harus diselesaikan," kata Pratikno kepada wartawan di Istana Negara.