by

Proses Peradilan Tidak ‘Fair’, Kalau Penyalah Guna Narkotika Tidak Diasesmen

Read Time:4 Minute, 3 Second

Oleh: Dr Anang Iskandar MH

PENYALAH GUNA narkotika sejatinya adalah korban kejahatan narkotika, korban kejahatan tersebut oleh UU Narkotika dinyatakan sebagai pelaku kejahatan penyalahgunaan narkotika yang berpotensi sakit ketergantungan narkotika dan gangguan mental kejiwaan, jika selama proses peradilan tidak dilakukan assesmen maka proses peradilannya menjadi tidak fair.

Ketidakadilan proses peradilan perkara penyalahgunaan narkotika menyebabkan penyalah guna mendapatkan perlakuan yang tidak rasional dan tidak sesuai dengan ketentuan perundang- undangan yang berlaku

Diperlakukan tidak rasional, karena sebagai pelaku dalam keadaan sakit adiksi ketergantungan narkotika tidak disembuhkan atau rehabilitasi kok malah ditahan dan dipenjara. Hal tersebut bertentangan dengan tujuan UU Narkotika yang menjamin penyalah guna mendapatkan upaya rehabilitasi.

Di mana letak tidak fair-nya? Pada dasarnya kejahatan penyalahgunaan narkotika adalah kejahatan yang dilakukan oleh pelaku/penyalah guna yang potensial sakit adiksi ketergantungan narkotika, tidak fair kalau tidak dilakukan asesmen.

Agar penyalah guna yang potensial sakit adiksi ketergantungan tersebut, menjadi penyalah guna yang nyata taraf kecanduannya, maka wajib dilakukan asesmen.

Bahwa asesmen adalah proses untuk mengetahui seberapa parah sakit ketergantungan narkotika dan ganguan mental kejiwaan yang diderita oleh pelaku kejahatan penyalahgunaan narkotika.

Hasil asesmen memberi gambaran kepada hakim dan para penegak hukum lainnya tentang taraf ketergantungan pelaku dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk melakukan rehabilitasi serta berapa lama hukuman rehabilitasi yang tepat yang akan dijatuhkan kepada pelaku kejahatan tersebut.

Proses asesmen menjadi penting karena politik hukum negara yang termaktub dalam tujuan UU Narkotika adalah menjamin penyalah guna mendapatkan pengaturan upaya rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial (Pasal 4) terhadap penyalah guna yang ditangkap oleh aparat penyidik.

Penyalah guna setelah diasesmen menjadi penyalah guna dengan sakit ketergantungan narkotika dan gangguan mental kejiwaan secara yuridis disebut pecandu. Pecandu tersebut berdasarkan Pasal 54 wajib menjalani rehabilitasi.

Nah, itulah sebabnya kenapa proses asesmen/visum et repertum oleh dokter ahli yang ditunjuk menjadi penting dalam proses penegakan hukum perkara penyalahgunaan narkotika.

Meminta dilakukan assesmen menjadi tugas, wewenang dan kewajiban penyidik, penuntut umum dan hakim (Peraturan Pemerintah No 25/2011 Pasal 13 dan Peraturan Bersama 2014) dalam melaksanakan penegakan hukum.

Nyatanya proses assesmen ini yang tidak dilakukan penyidik, penuntut umum dan hakim secara berjenjang pada semua tingkatan pemeriksaan, meskipun berdasarkan fakta bahwa tersangka atau terdakwa hanya berperan sebagai penyalah guna saja.

Kenapa penyalah guna yang ditangkap wajib dimintakan asesmen? Karena di samping tuntutan aturan perundang-undangan, penegak hukum tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui kondisi sakit adiksi ketergantungan narkotika yang sedang disidik, dituntut dan diadili.

Tanpa hasil asesmen (keterangan ahli) maka penyidik, jaksa penuntut umum dan hakim akan memperlakukan penyalah guna sebagai pelanggar hukum, seakan akan sebagai pelaku turut serta atau membantu pengedar.

Kok begitu? Faktanya begitu, penyalah guna diancam dengan pidana berlapis, dengan ancaman pidana minimum empat tahun dan hakim akan mengalami kesulitan dalam menentukan berapa lama hukuman rehabilitasi akan dijatuhkan.

Meskipun hakim diberi kewajiban untuk mengetahui kondisi sakit ketergantungan yang diderita penyalah guna melalui proses asesmen dan hakim diberi kewenangan oleh UU Narkotika dapat menjatuhkan hukuman rehabilitasi secara mutlak (Pasal 103).

Apa akibatnya dari tidak fair-nya proses peradilan tersebut? Akibat dari tidak fair-nya proses peradilan, terjadi distorsi dalam praktek peradilan, di mana penyalah guna diadili tanpa keterangan ahli yang menyatakan bahwa terdakwa penyalah guna adalah pecandu dengan taraf tertentu. Ini yang menyebabkan penyalah guna diperlakukan sebagai pengedar.

Dengan demikian perkara penyalah guna narkotika oleh penegak hukum diposisikan pada trek peradilan pidana umum padahal berdasarkan ketentuan UU Narkotika seharusnya mengikuti trek peradilan pidana rehabilitasi.

Selama ini faktanya proses peradilan perkara penyalahgunaan narkotika mengikuti trek peradilan pidana umum berakibat penyalah guna ditahan dan dijatuhi hukuman penjara.

Model peradilan dengan memperlakukan penyalah guna seakan-akan sebagai pengedar, ditahan dan dihukum penjara tersebut bertentangan dengan politik hukum negara, tujuan dan batang tubuh UU Narkotika.

Model tersebut merugikan penyalah guna sendiri, merugikan keluarga penyalah guna, merugikan masyarakat bangsa dan negara. Penyalah guna rugi karena menjadi residivis dan kehilangan masa depannya akibat dipenjara, keluarga rugi secara moril dan materiil.

Sedangkan negara juga rugi karena lapas over kapasitas dengan segala permasalahannya dan terjadinya residivisme penyalah guna narkotika. Yang diuntungkan hanya para pengedar dan oknum penegak hukum yang tidak komitmen dengan tujuan dan batang tubuh UU Narkotika.

Padahal UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mengatur bahwa perkara penyalahgunaan narkotika mengikuti trek peradilan rehabilitasi, penyalah guna tidak memenuhi syarat ditahan selama proses peradilan (praktiknya ditahan).

Dijamin UU Narkotika untuk ditempatkan pada lembaga rehabilitasi selama proses peradilannya (praktiknya ditahan). UU Narkotika juga mengatur bahwa penyalah guna tidak dijatuhi hukuman penjara tetapi dihukum menjalani rehabilitasi (praktiknya dipenjara).

Tempat menjalani hukuman rehabilitasi ditentukan tidak di lapas, tetapi di rumah sakit atau tempat rehabilitasi yang ditunjuk Menteri Kesehatan (praktiknya tidak berfungsi).

Itu sebabnya proses penanggulangan perkara penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, saya katakan njomplang, tidak balance karena baik penyalah guna maupun pengedarnya dihukum penjara, padahal UU Narkotika mensyaratkan harus balance dalam menanggulangi penyalah guna dan pengedar.

Penyalah guna dihukum rehabilitasi agar sembuh, tidak menjadi residivis, pengedarnya dihukum penjara berat agar jera alias biar kapok. (Penulis adalah Aktivis Antinarkoba Nasional)

 

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini