FILM PINKY PROMISE DIPUTAR 13 OKTOBER – Poskota.co
Saturday, September 23

FILM PINKY PROMISE DIPUTAR 13 OKTOBER

POSKOTA.CO – MP Pro Pictures resmi meluncurkan trailer, poster, soundtrack, dan original sountrack (OST) film Pinky Promise, yang bakal diputar di seluruh bioskop Tanah Air mulai 13 Oktober 2016. Film yang menargetkan satu juta penonton ini, dibintangi sederet artis peran yang sudah memiliki nama besar. Bahkan, untuk original soundtracknya, MP Pro memilih Afghan sebagai penyanyi, dan musik orkestranya direkam di Praha.

Selain Dhea Seto, sederet artis juga terlibat dalam pembuatan Pinky Promise. Mereka adalah Agni Pratistha, Dea Ananda, Alexandra Gottardo, Ira Maya Sopha, Chelsea Islan, Derby Romero, Ringgo Agus Rahman, Maudy Kusnaedi, Gunawan, Jajang C Noer, dan Donny Alamsyah.

Film produksi MP Pro ini mengisahkan warna-warni persahabatan antarperempuan dari jenjang usia yang berbeda dan masalah hidup yang berbeda.

“Bukan semata-mata persahabatan. Tapi ini (dari Pinky Promise) bisa dilihat kehebatan wanita. Mau menceritakan kehebatan wanita. Paling tidak kita berhubungan dengan wanita,” ujar Guntur Soeharjanto pada peluncuran trailer dan poster film Pinky Promise di XXI Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (19/8).

Guntur menambahkan, “Film ini potret sosial kebidupan nyata yah disini. Semua artis yang ada disini mewakili kehidupan sosial saat ini. Mereka bertemu karena memiliki latar belakang yang sama penyakit kanker.”

20deaDhea Seto

Di film ini, Dhea Seto harus rela kehilangan rambut indahnya demi menjalani karakter Ken yang mengidap penyakit kanker.

Dhea berkeputusan untuk memangkas habis rambutnya agar dapat maksimal melakoni akting.

“Perasaannya jujur biasa aja. Dari awal ditawarin kan harus dibotakin karena apa. Seberapa kuat untuk mengkuatkan scene itu. Sebenarnya sempat mundur satu hari,” papar Dhea.

Anak Kak Seto ini awalnya sempat ragu harus kehilangan mahkotanya, namun belakangan pasca melakoni film itu, ada niatan ingin tampil botak dalam kehidupan riilnya. “Mau botak lagi tapi enggak boleh sama keluarga,” pungkas Dhea.

20dea1Agni Pratistha

Agni Pratistha dalam Pinky Promise, sebagai pemeran utama, bahkan benar-benar menjalin persahabatan dengan para wanita pemeran film ini, agar pesan dapat tersampaikan.

“Di sini saya, Agni Pratistha, Dea Ananda, Dhea Seto, Alexandra G., Chelsea Islan, dan Ira Maya Sopha, bukan hanya bersahabat di dalam film, tetapi juga di kehidupan nyata,” papar Agni.

Puteri Indonesia 2007 iniberperan sebagai Tika, seorang wanita karir yang berkecukupan secara ekonomi. “Saya sebagai Tika, wanita karir yang punya kehidupan enak,” ungkapnya. Namun, suatu saat kehidupan Tika berubah.

“Tika, divonis menderita kanker payudara. Sejak saat itu, Tika harus berjuang menjalani hidup,” tambah Agni. Untuk memerankan karakter ini, Agni juga harus rela kehilangan rambutnya.

“Dengan dibotakin, karakternya lebih kuat. semakin realistis,” jelasnya.

20aleandraAlexandra Gottardo

Setelah sempat vakum lumayan lama, Alexandra Gottardo kembali melakoni film layar lebar. Alexandra sebagai Baby, seorang wanita simpanan yang mengincar para pria kaya.

“Aku datang Jawa ke Jakarta ingin mencari peruntungan istilahnya, cari luck, tapi caranya salah, engan mendompleng atau ikut om-om yang sudah beristri, asal kaya ditempel hanya untuk mendapatkan uang dan kesenangan sendiri,” papar Alex.

Ibu muda menemukan tantangan. Soalnya, selama ini Alex lebih banyak main FTV atau sinetron. “Tantangan iya tantangan. Tapi, untuk peran ini aku belajar dari lingkungan sekitar Jakarta,” jelasnya.

Alex dituntut melakukan observasi untuk perannya itu. Terutama berbahasa Jawa yang kental, yang sempat membuatnya kagok pada awal-awal syuting. “Tapi, dibantu sutradara jadi agak rileks setelah dua minggu,” jelasnya. [mf]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_810" align="alignleft" width="300"] Effendi Gazali[/caption] POSKOTA.CO - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali melayangkan protes ke Mahkamah Konstitusi meminta penjelasan atas ketidakkonsistenan dan memiliki sikap berbeda dalam mengadili suatu perkara. Dalam surat itu, Effendi meminta penjelasan tentang permohonannya terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak yang membutuhkan waktu satu tahun lebih. Dia mengungkapkan bahwa pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu didaftarkan Effendi pada 10 Januari 2013 dan baru diputus 23 Januari 2014. Sementara, saat menguji Undang-Undang nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Mahkamah Konstitusi, MK hanya membutuhkan waktu 37 hari. "Putusan Mahkamah Konstitusi No 1PUU-XII/2014 dan 2/PUU-XII/2014 dibacakan setelah 37 dan 50 hari sejak pendaftaran perkara, sedangkan Putusan PUU kami nomor 14/PUU-XI/2013 dibacakan setelah 1 tahun 13 hari (378 hari) sejak pendaftaran perkara," ungkap Effendi, dalam suratnya. Effendi juga memprotes dasar pertimbangan yang digunakan, yakni saat mengadili UU MK, mahkamah mempertimbangkan perlu segera memutus perkara karena terkait dengan agenda ketatanegaraan Tahun 2014, yaitu pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Namun, lanjutnya, dalam mengadili UU Pilpres yang diajukan Effendi, MK tak menggunakan pertimbangan serupa. Oleh karena itu, Effendi dalam suratnya mempertanyakan, apakah konstitusionalitas dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kalah penting dibandingkan dengan potensi sengketa hasil pemilu yang akan ditangani oleh MK. Effendi mengharapkan respon secepatnya dari MK, jka sampai 14 hari tidak mendapatkan respon, maka dia mengancam akan melaporkan masalah ini ke Dewan Etik MK. djoko-antara